Ini Strategi Asabri Perbaiki Kinerja Keuangan Akibat Kerugian Investasi

Kompas.com - 10/06/2021, 05:12 WIB
Logo PT ASABRI (Persero) asabri.co.idLogo PT ASABRI (Persero)

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau Asabri (Persero) telah menyiapkan sejumlah strategi untuk memperbaiki kondisi keuangan perseroan yang tengah terpuruk akibat kegagalan investasi saham.

Direktur Utama Asabri Wahyu Suparyono mengatakan, strategi pertama ialah penataan ulang struktur organisasi dan kebijakan investasi perseroan.

Ia membeberkan, pada periode kepemimpinan sebelumnya terdapat praktik pengelolaan perusahaan yang buruk, seperti adanya penunjukan staf ahli yang dilakukan secara sepihak oleh direktur utama tanpa persetujuan direksi lainnya.

Baca juga: Ekuitas Negatif, Asabri Butuh Rp 15,6 Triliun

"Internal control instalationnya jadi kolektif kolegial, ini penting sekali di industri keuangan," katanya dalam gelaran Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI, Rabu (9/6/2021).

Kemudian, Asabri juga akan mengoptimalisasi sinergi dengan klaster asuransi BUMN, guna meningkatkan pendapatan sekaligus terus mendongkrak efisiensi perusahaan.

Strategi ketiga, Asabri akan melakukan pemulihan aset yang tidak produktif akibat kesalahan penempatan investasi oleh manajemen Asabri sebelumnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Khususnya yang disalahgunakan, sehingga nempel di saudara HH dan BT, yang saat ini berproses di pengadilan," ujar Wahyu.

Lalu, Asabri juga meminta dukungan kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenkeu), terkait penyesuaian bunga aktuaria, guna mengatasi permasalahan indikator solvabilitas yang berada di level negatif.

"Dampak penyesuaian bunga aktuaria terus bergerak. Penyesuaian bunga aktuaria yang telah efektif di April naik jadi 7,48 persen dari 6,9 persen," tuturnya.

Baca juga: Sri Mulyani Ubah Skema Penghitungan BOP Taspen dan Asabri

Terakhir, Asabri meminta kepada Kemenkeu untuk membayarkan dana unfunded past service liability (UPSL) atau kewajiban masa lalu untuk program tabungan hari tua yang belum terpenuhi, dengan nilai mencapai Rp 6,4 triliun.

"Saat ini Kemenkeu masih dalam proses kajian, mudah-mudahan kajiannya tidak lama," ucapnya.

Sebagai informasi, sampai dengan April 2021 posisi indikator solvabilitas Asabri berada di posisi negatif Rp 11,97 triliun, perusahaan pengelola dana pensiun TNI-Polri itu memerlukan dana sekitar RP 13,75 triliun untuk memenuhi ketentuan risk based capital (RBC) Otoritas Jasa Keuangan (OJK).



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X