Sri Mulyani Proyeksi Pembiayaan Utang Tahun Ini Turun Rp 150,4 Triliun

Kompas.com - 23/08/2021, 19:14 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan Hasil Rapat Berkala KSSK terhadap stabilitas sistem keuangan kuartal II 2021. Dok. Kementerian KeuanganMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan Hasil Rapat Berkala KSSK terhadap stabilitas sistem keuangan kuartal II 2021.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksi pembiayaan utang tahun ini turun Rp 150,4 triliun.

Secara keseluruhan, pembiayaan hanya mencapai Rp 1.027 triliun atau turun 22,7 persen dari target APBN 2021 sebesar Rp 1.177,4 triliun.

Bendahara Negara ini mengungkapkan, penurunan pembiayaan utang disebabkan karena pemerintah akan memanfaatkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) atau Sisa Lebih Anggaran (SAL).

Baca juga: Tutup Defisit APBN, Pemerintah Tarik Utang Rp 973,58 Triliun Tahun Depan

“Kami perkirakan prognosis (pembiayaan utang) semester II Rp 584 triliun atau totalnya Rp 1.027 triliun, di bawah yang ada di APBN sebesar Rp 1.177,4 triliun atau Rp 150 triliun akan gunakan SILPA,” kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (23/8/2021).

Namun demikian, pembiayaan selain utang mengalami kenaikan. Pembiayaan investasi misalnya, diperkirakan meningkat jadi Rp 204,5 triliun.

Padahal, dalam target semula sebesar Rp 184,5 triliun.

Begitu juga untuk pemberian pinjaman yang mencapai Rp 1,8 triliun dari target Rp 400 miliar.

Wanita yang akrab disapa Ani ini bilang, kenaikan pemberian pinjaman relatif kecil sehingga tidak terlalu mempengaruhi pembiayaan APBN.

Baca juga: Kuartal II 2021, Utang Luar Negeri Indonesia Turun Tipis

Pembiayaan lain juga mengalami kenaikan dengan proyeksi mencapai Rp 140 triliun.

"Realisasi (pembiayaan investasi) Rp 125,6 triliun pada semester 1 atau 13,9 persen. Semester II sebesar diperkirakan Rp 179 triliun atau 97 persen total dari alokasi akan terealisir. Outlooknya adalah Rp 204,5 triliun, agak di atas Rp 184 triliun," beber Sri Mulyani.

Sedangkan, kewajiban penjaminan sepanjang tahun ini diproyeksi tidak banyak berubah dengan outlook yang sama dengan target, yakni Rp 2,7 triliun.

Dengan begitu, outlook pembiayaan APBN pada tahun 2021 diproyeksi mencapai Rp 961,5 triliun atau lebih rendah dari target Rp 1.006,4 triliun.

"Jadi (pembiayaan utang) yang mungkin sekitar Rp 150 triliun akan kita gunakan Silpa. Pembiayaan lain terjadi kenaikan ini yang tadi pakai penggunaan SAL. Jadi pemanfaatan tambahan SAL untuk investasi pemerintah dalam rangka penyelesaian DPP semester 1, infrastruktur transportasi, serta mengurangi issuance SUN kita," pungkas Sri Mulyani.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.