Dorong Penggunaan Kendaraan Listrik, Pemerintah Bakal Setop Penjualan Mobil Konvensional pada 2050

Kompas.com - 21/10/2021, 15:06 WIB
Ilustrasi mobil baru yang mendapatkan insentif PPnBM. ShutterstockIlustrasi mobil baru yang mendapatkan insentif PPnBM.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasri mengatakan, pemerintah akan menghentikan penjualan kendaraan konvensional atau berbahan bakar fosil (BBM). Penghentian ini berlaku untuk mobil maupun motor.

Ia mengungkapkan, langkah tersebut merupakan bagian dari peta jalan transisi energi menuju net zero emission untuk periode 2021-2060.

Baca juga: Gaikindo Sebut Peralihan ke Kendaraan Listrik Bisa Dilakukan secara Alamiah

"Kami mendorong penggunaan kendaraan lsitrik, dengan target menghentikan penjualan motor konvensional di 2040 dan mobil konvensional di 2050," ujar Arifin dalam acara Indonesia Pathway to Net Zero Emission, Kamis (21/10/2021).

Seiring dengan penghentian penjualan mobil-motor konvensional, Arifin memastikan, pemerintah akan melakukan penyediaan transportasi umum secara lebih masif ke depannya.

Arifin bilang, tak hanya dengan mendorong kendaraan listrik, pemerintah juga mendorong subtitusi penggunaan energi melalui intensifikasi kompor listrik. Selain itu, mendorong pembangunan jaringan gas di rumah-rumah masyarakat.

Peta jalan transisi energi tersebut juga membuat strategi lainnya yang akan dilakukan pemerintah, diantaranya dengan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) secara masif.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Peran Strategis Indonesia di Rantai Pasok Global Kendaraan Listrik

Hal itu utamanya dilakukan dengan mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), serta menyetop pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru.

Targetnya, pemerintah ingin pada 2060 seluruh pembangkit listrik di Indonesia sudah berasal dari EBT, tak lagi dari pembangkit dengan energi fosil.

"Retirement pembangkit listrik tenaga fosil dilakukan secara bertahap sesuai dengan umur pembangkit atau bisa lebih cepat dengan mekanisme yang tepat," kata Arifin.

Strategi lainnya yakni dengan mengoptimalkan pemanfaatan energy storage secara bertahap mulai 2031. Selain itu, melalui opsi pemanfaatan energi nuklir yang akan dimulai pada 2045 dengan kapasitas mencapai 35 gigawatt (GW) di 2060.

"Serta dilakukan peningkatan keandalan jaringan dengan membangun konektivitas di dalam maupun antar pulau, juga mengembangkan implementasi smart grid dan smart meter," pungkas Arifin.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.