GIMNI: Pasokan Minyak Goreng Curah Sudah Mantap, tapi Harganya Masih Tinggi

Kompas.com - 12/05/2022, 22:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasokan minyak goreng curah di pasar terus menggelontor. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menyampaikan, dalam tiga hari ini sudah ada 31.250 ton minyak goreng curah digelontorkan. Dus, ketersediaan minyak goreng (migor) curah sudah cukup baik di pasaran.

Hanya saja, harga migor curah belum juga mencapai harga eceran tertinggi (HET) yang ditentukan yaitu Rp 14.000 per liter.

"Berarti pasokan/availability migor curah sudah mantap di lapangan, tapi harga yang beredar masih tinggi di kisaran Rp 17.000-an per liter. Artinya ada peminat migor curah yang tidak seharusnya membeli yang bersubsidi ini," kata Sahat, Kamis (12/5/2022).

Baca juga: Ingin Beli Minyak Goreng? Simak Perbandingan Harganya di Indomaret, Alfamart, dan Griya Yogya

Ia menambahkan, dugaan yang terjadi di lapangan ialah migor curah kemungkinan dikemas ulang oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Potensi dikemas ulang kemungkinan terjadi melihat adanya perbedaan harga yang cukup tinggi di pasaran.

"Misalnya yang terjadi di lapangan, migor curah bersubsidi nyelonong ke repacker dan bisa jual Rp 21.000 per liter. Kemudian banyak beralih ke industri makanan minuman, perhotelan, fast food dan sebagainya," ungkap Sahat.

Selain itu, dampak larangan ekspor bahan baku minyak goreng belum juga maksimal menurunkan harga migor curah lantaran industri sawit baru mulai aktif pada 10 Mei lalu. Pasalnya larangan ekspor bagi 3 kelompok produk yaitu HS 1511, HS 1518 dan HS 2306 baru mulai per 28 April, dan kemudian disusul libur lebaran.

Dampak larangan ekspor tersebut membuat pasar dari migor kemasan di Supermarket, toko-toko lesu. Bahkan kata Sahat, banyak tempat harga migor kemasan turun dari Rp 52.800 per dua liter ke Rp 48.350 per dua liter.

Baca juga: Ombudsman Periksa Kemendag Hingga Kemenkeu terkait Penyediaan dan Stabilisasi Harga Minyak Goreng

Turunnya harga minyak goreng kemasan tak lepas dari masyarakat yang tergolong mampu justru memilih beralih membeli migor curah bersubsidi.

GIMNI menilai, konsep HET migor curah akan sulit direalisasikan, kecuali alur produk dari hulu sampai pengecer produk ini ditangani oleh pemerintah. "Baiknya kebijakan harga ini dilepas saja ke mekanisme pasar," kata Sahat.

Sebagai gantinya, pemerintah mengalihkan subsidi migor curah dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) kepada BUMN untuk mempercepat distribusi ke masyarakat dan juga dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT) kepada masyarakat berpenghasilan rendah.

"Semoga di bulan Mei ini harga migor curah di lapangan sudah bisa Rp 14.000 perliter (HET), dan ekspor sawit bisa berjalan seperti sedia kala," kata Sahat.

Baca juga: Ditugaskan Salurkan Minyak Goreng Curah, Bos Bulog: Tunggu Regulasi Penugasan

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Suplai Sudah Banyak, Harga Minyak Goreng Curah Belum Sesuai HET

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.