Soal BPA di Air Minum dalam Kemasan, Ini Kata Pakar

Kompas.com - 08/08/2022, 18:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Persoalan air minum dalam kemasan (AMDK) dalam galon polikarbonat yang mengandung Bisphenol A (BPA) masih jadi perhatian publik.

Oleh karena itu, rancangan regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang akan mengatur penggunaan galon BPA pada AMDK juga masih disorot sejumlah kalangan.

Pakar biokimia Institut Pertanian Bogor Syaefudin berpendapat, senyawa kimia BPA akan dikeluarkan lagi dari dalam tubuh orang yang tidak sengaja mengkonsumsinya melalui urin.

Baca juga: Kominfo Cabut Label Disinformasi pada Berita soal Kandungan BPA Galon AMDK

Meskipun begitu, ia setuju jika BPOM tetap melakukan pengawasan ketat terhadap konsentrasi BPA yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui air minum dalam kemasan galon plastik.

“Kita sebenarnya tidak tahu berapa konsentrasi BPA yang ada di sekeliling kita. Kalau tidak dibatasi, bisa saja ada yang nakal meningkatkan konsentrasi BPA,” kata dia dalam siaran pers, Senin (8/8/2022).

Sedikit catatan, negara berkembang yang belum mengatur ketat kemasan galon BPA dengan regulasi tinggal sedikit.

Sedangkan, di negara maju kemasan plastik BPA sudah dilarang melalui regulasi utamanya karena dinilai bisa memicu gangguan jantung, ginjal, kanker, gangguan hormon hingga gangguan mental pada anak.

Selain itu, kemasan mengandung BPA juga rentan terhadap gesekan dan sinar matahari dalam proses distribusinya dari pabrik hingga ke tangan konsumen.

Baca juga: Pelabelan BPA Galon Guna Ulang Diyakini Tidak Memukul Bisnis Depot Air

Hal itu dinilai berpotensi melepaskan senyawa BPA hingga menyebabkan air di dalam kemasan terkontaminasi.

Apalagi kata dia, tidak ada kontrol terhadap galon BPA di pasaran yang sudah berusia di atas lima tahun, atau galon isi ulang yang dicuci dengan deterjen di pinggir jalan selama bertahun-tahun.

Meskipun diklaim tahan panas, tidak ada kontrol sejauh mana kontaminasi yang terus menerus terjadi pada air dalam kemasan galon BPA, baik karena kenaikan suhu temperatur maupun karena sebab lain seperti gesekan atau perlakukan saat pembersihan galon.

Sementara itu, ahli teknologi polimer Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Mochamad Chalid mengatakan, belum ada negara di dunia ini yang melarang penggunaan plastik PET untuk kemasan air minum.

Ia menegaskan, sejauh riset yang ada sudah bisa dikonfirmasi, tidak ditemukan pelepasan senyawa antimon berbahaya dalam kemasan plastik PET.

Baca juga: Akademisi Desak Pemerintah Segera Terapkan Kebijakan Pelabelan BPA

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.