Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Dr. Ir. Muhrizal Sarwani, M.Sc.
Analis Kebijakan Utama Kementan

Analis Kebijakan Utama Kementerian Pertanian

Sawah Rawa Pasang Surut

Kompas.com - 17/04/2023, 15:44 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Reklamasi dihentikan pada 1930 karena persoalan ekonomi, politik, dan lingkungan. Perang Vietnam menambah derita Delta Mekong menyebabkan kawasan delta terhenti perkembangannya.

Setelah perang, Master Plan Delta Mekong dikeluarkan untuk membangun kembali Delta di bawah komite Mekong yang didukung oleh Amerika dan Belanda.

David Lilienthal, yang dikenal selama tahun 1960-an sebagai arsitek Tennessee Valley Authority dan di media dikenal sebagai 'Mr TVA' ditunjuk oleh Presiden Lyndon B. Johnson menerima kontrak untuk menyelenggarakan pertemuan dengan officials Vietnam untuk membangun Delta Mekong.

Awalnya Mr. TVA skeptis dengan keberhasilan proyek, tetapi setelah melihat kearifan lokal petani Vietnam, dia mulai percaya bahwa pengembangan Delta Mekong bisa berhasil.

Skema 'tanggul Belanda' yang telah diterapkan oleh pemerintah kolonial dan pemerintah Vietnam bersatu, kemudian kampanye “Rice everywhere” yang dicetuskan oleh pemerintah semakin mendorong keberhasilan pengembangan Delta Mekong.

Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, termasuk dijumpainya persoalan yang sama seperti di Belanda, yaitu adanya catclay tanah beracun yang terbentuk oleh suatu mineral yang disebut pirit sehingga juga menimbulkan kekurangan pangan di kawasan tersebut.

Namun ketekunan para ahli yang terlibat utamanya para peneliti Belanda dan Vietnam, persoalan dapat diselesaikan.

Sejak 1986 kawasan Delta Mekong menjadi produktif tidak hanya adanya intervensi riset terhadap tanah dan tata air, tetapi juga utamanya dipicu oleh beragam kebijakan yang positif dan berkesinambungan.

Sejak itu, kawasan Delta Mekong merupakan kawasan paling produktif untuk padi dan aquaculture di dunia, masing-masing menyuplai lebih dari 70 persen dan 50 persen Vietnam foreign export.

Thailand juga memiliki sawah rawa pasang surut yang serupa dengan Delta Mekong Vietnam, yaitu kawasan Delta Chao Phraya.

Persoalan tanah juga dialami oleh masyarakat awal yang melakukan penanaman di lahan rawa Delta Chao Phraya.

Peneliti Belanda Dr. van Bremen dan timnya pada 1970-an melakukan riset khusus untuk program PhD di Wageningen University terkait dengan persoalan tanah di Delta Chao Phraya.

Ternyata serupa dengan Belanda dan Vietnam mereka juga menemukan catclay yang disebabkan oleh mineral pirit penyebab kemasaman tanah ekstrem.

Diketahui bahwa mineral pirit punya sifat yang khas, yaitu akan menjadi catclay jika kering (oksidasi), tetapi tidak berbahaya jika selalu basah (reduksi).

Dari sinilah dirancang sistem tata air yang dapat menjaga pirit tidak kering. Jika kedalaman pirit diketahui, maka sampai pada batas itulah air harus dipertahankan.

Indonesia juga melakukan pembukaaan lahan rawa besar-besaran pada tahun1970-1980-an dan para profesor serta akademisi yang terlibat juga menemukan persoalan yang hampir serupa yang dialami di Belanda, Vietnam maupun Thailand.

Prof. Tejoyuwono Notohadiprawiro (alm.), Guru Besar UGM yang terlibat langsung di P4S Kalimantan Selatan/Tengah menyebutkan bahwa: “Hampir semua yang muskil muncul di lahan rawa sehingga patut menjadi pembiakan persoalan pengelolaan tanah secara paripurna”, menunjukkan bahwa betapa banyaknya persoalan yang dihadapi pada saat awal membuka lahan rawa.

Mengutip data yang disampaikan oleh Prof. Robiyanto pada saat pengukuhan guru Besar pada Universitas Sriwijaya (2010), selama periode 1970-1980-an Proyek P4S telah membuka lahan rawa seluas 1,8 juta ha. Sawah kita bertambah drastis sehingga terjadi lonjakan produksi padi.

Dan ini diganjar dengan penghargaan FAO pada tahun 1986 dengan keberhasilan swasembada pangan. Suatu legacy bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia yang tidak cukup untuk dikenang, tetapi harusnya menjadi fokus pembangunan bagi pemerintahan saat ini maupun masa akan datang.

Namun tahukah kita bahwa ada peran masyarakat secara swadaya melakukan pembukaan lahan rawa jauh sebelum proyek P4S dicetuskan?

Masyarakat Banjar dan Bugis, dengan keahlian mereka, telah membuka lahan rawa secara mandiri. Catatan yang disampaikan Prof. Muhammad Noor dkk dari Balai Penelitian Lahan Rawa bahwa masyarakat Banjar dan Bugis telah membuka lahan rawa lebih kurang 1,6 juta ha.

Inilah yang menginspirasi pencetakan dan pembukaan sawah secara-secara besaran di rawa pasang surut.

Sebagian besar masyarakat Banjar yang terbiasa hidup di rawa, memanfaatkan saluran air yang telah dibangun pemerintah Hindia Belanda pada 1890 untuk pengembangan rawa pasang surut yang membuat saluran penghubung dua sungai Besar, yaitu Sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Sungai Kapuas Murung di Kalimantan Tengah yang disebut Anjir Serapat.

Awalnya digunakan untuk transportasi, tetapi malah mendorong masyarakat di Hulu Sungai Kalimantan melakukan pembukaan sawah secara mandiri di sepanjang Anjir ini.

Pada 1935, dilakukan pengerukan kembali Anjir Serapat ini yang semakin mendorong pembukaan lahan secara mandiri.

Selain itu, pada 1936, Anjir Tamban dibangun sekaligus sebagai wilayah koloni dengan menempatkan orang Jawa dari Blitar dan Tulung Agung.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com