Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lebih "Hijau", PLTU Paiton Pakai Biomassa Serbuk Kayu dan Bertahap Kurangi Batu Bara

Kompas.com - 04/12/2023, 18:24 WIB
Aprillia Ika

Editor

PROBOLINGGO, KOMPAS.com - PLTU Paiton sebagai pembangkit listrik berkapasitas 4.700 watt yang memenuhi kebutuhan listrik Jawa-Madura dan Bali (Jamali) kini bertahap mengurangi penggunaan batu bara dan mengganti sebagian kecil dengan biomassa.

Praktik ini kerap disebit Co-firing biomassa yang dilakukan untuk mereduksi emisi, sesuai target pemerintah mencapai net zero emission (NZE) pada 2060. Di PLTU Paiton, penggunaan biomassa dilakukan di PLTU Paiton 1 dan 2.

Senior Manager UP Paiton Agus Prastyo Utomo mengatakan, batu bara tetap jadi bahan bakar utama PLTU Paiton. Namun dalam rangka upaya mengendalikan emisi, dilakukanlah pemanfaatan biomassa, yakni dengan memanfaatkan serbuk kayu (sawdust).

Penggunaan batu bara di PLTU Paiton 1 dan 2 sekitar 18.000 ton per hari. Sementara diversifikasi biomassa mencapai 30 persen, selain dari sawdust juga dari limbah padi, cocopeat, limbah uang kertas dan bahan bakar jumputan padat.

Baca juga: PLN dan PTBA Kerja Sama Pemanfaatan Sisa Hasil Pembakaran Batu Bara

Hasil co-firing, PLTU Paiton bisa hemat batu bara 5 persen atau sekitar 328,5 ton per tahun. Sementara penambahan nilai ekonomi sawdust sebesar Rp 550.000 per ton, sementara penurunan emisi GRK yang dihasilkan mencapai 471.000 ton CO2 sejak 2019.

"Makanya kami menggunakan sawdust, yang secara harga masih memenuhi aturan PLN terjait pengaturan harga co-firing biomassa. Hal ini jadi upaya menghasilkan green energy atau energi hijau sebesar 5 persen atau setara sekira 300 GWH tanpa banyak modifikasi," kata Agus melalui keterangannya, Senin (4/12/2023).

Baca juga: Implementasi Co-Firing di PLN Hasilkan 575,4 GWh Listrik Bersih

Sebagai informasi, pemerintah berencana menghentikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) secara bertahap hingga 2030, untuk mengurangi penggunaan batu bara.

Padahal, Indonesia sumber daya batu bara yang melimpah dengan potensi cadangan batu bara yang cukup untuk memenuhi kebutuhan 65 tahun ke depan.

Untuk itu, penggunaan co-firing biomassa jadi salah satu solusi di masa transisi tersebut.

Di PLN sendiri sebagai perusahaan negara penyedia listrik, masih ada PLTU berbahan bakar batu bara hingga 2025 yang merupakan bagian dari proyek pembangkit 35.000 Megawatt.

Baca juga: PLTU Batu Bara Disetop, Co-Firing Biomassa dan Teknologi CCS Jadi Pilihan

Strategi co-firing biomassa jadi pilihan PLN untuk melakukan reduksi emisi di PLTU batu baranya tersebut. Co-firing merupakan proses penambahan biomassa sebagai bahan bakar pengganti parsial atau bahan campuran batu bara di PLTU.

Dengan co-firing ini diharapkan saban PLTU batu bara PLN bisa mengganti 10-20 persen batu bara dengan biomassa hingga 2025. Dengan demikian, bisa mencapai target bauran energi hingga 3-6 persen pada 5 tahun mendatang.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com