Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Realisasi Penukaran Uang Lebaran 2024 Capai Rp 52 Triliun

Kompas.com - 26/03/2024, 20:00 WIB
Agustinus Rangga Respati,
Yoga Sukmana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) melaporkan realisasi penukaran uang tunai untuk periode Ramadhan dan Idul Fitri 2024 telah mencapai Rp 52 triliun hingga 22 Maret 2024.

Angka tersebut setara 26,39 persen dari total uang layak edar (ULE) yang disiapkan BI yakni sebesar Rp 197,6 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada Lebaran 2024.

Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Agus Susanto Pratomo mengatakan, jumlah tersebut merupakan gabungan dari penukaran uang yang dilakukan oleh BI dan uang tunai yang ditarik oleh perbankan.

Baca juga: Jadwal, Lokasi, Cara dan Syarat Penukaran Uang BI di Jabodebek Khusus Ramadhan 2024

"Realisasinya saat ini untuk penukaran saja sudah Rp 320 miliar, tetapi realisasi secara keseluruhan yang ditarik oleh perbankan sudah mencapai Rp 52 triliun per 22 Maret," kata dia ketika ditemui di kawasan kantor Kompas Gramedia, Selasa (26/3/2024).

Ia menambahkan, seiring berjalannya waktu, diproyeksikan saat ini realisasi penukaran uang telah mencapai Rp 60 triliun, atau menyentuh 30 persen dari total kebutuhan uang tunai yang disiapkan BI.

Agus memproyeksikan, realisasi penukaran uang tunai tersebut akan terus bertambah seiring dengan animo masyarakat dalam menukarkan uang menjelang Lebaran.

Baca juga: Catat, Jadwal dan Lokasi Penukaran Uang BI di Jabodebek

"Estimasi kami nanti akan di range 90-100 persen untuk realisasinya dari Rp 197,6 triliun," imbuh dia.

Berdasarkan proyeksinya, jumlah total yang disiapkan BI tidak akan kurang dan mencukupi kebutuhan masyarakat di seluruh Indonesia. Ketika ternyata kebutuhan masyarakat melebihi jumlah yang disiapkan, BI masih memiliki uang tunai yang juga siap digunakan.

Lebih lanjut, Agus berharap penukaran uang layak edar ini juga dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat.

"Dengan orang melakukan penukaran ini, resirkularisasi uangnya kan menjadi terus. Orang kan menukar (uang tunai) tidak mungkin disimpan," tandas dia.

Baca juga: Catat, Ini 15 Kantor Cabang Bank DKI yang Layani Penukaran Uang Baru

Sebelumnya Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Marlinson Hakim sempat mengatakan, Ramadhan dan Idul Fitri menjadi masa ketika uang tunai atau uang kartal yang beredar cukup tinggi.

"Ketika Ramadhan dan Idul Fitri menjadi masa uang beredar cukup tinggi, yakni rata-rata sebesar 25 persen dari satu tahun peredaran," kata dia, Jumat (15/3/2024).

BI sendiri menyediakan 449 titik yang terpublikasi di laman Penukaran dan Tarik Uang Rupiah (PINTAR).

Baca juga: BI Siapkan 418 Titik Penukaran Uang di Jawa Tengah dan DIY

Untuk layanan penukaran uang rupiah baik melalui layanan penukaran terpadu, dan BI peduli mudik, dan kas keliling kecuali kas keliling susur sungai, masyarakat diharapkan memesan penukaran terlebih dulu melalui Aplikasi Penukaran dan Tarik Uang Rupiah (PINTAR).

Selain penukaran uang rupiah tersebut, BI juga menyediakan layanan tambahan meliputi penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun RI (UPK75RI) dan penerimaan penukaran menggunakan uang logam pada kas keliling terpadu.

Baca juga: BSI Sudah Buka Penukaran Uang untuk Lebaran 2024 di Kantor Cabang

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Modal Asing Kembali Masuk ke Indonesia, Pekan Ini Tembus Rp 4,04 Triliun

Modal Asing Kembali Masuk ke Indonesia, Pekan Ini Tembus Rp 4,04 Triliun

Whats New
Sedang Cari Kerja? Ini 10 Hal yang Boleh dan Tak Boleh Ada di Profil LinkedIn

Sedang Cari Kerja? Ini 10 Hal yang Boleh dan Tak Boleh Ada di Profil LinkedIn

Work Smart
Ini yang Bakal Dilakukan Bata setelah Tutup Pabrik di Purwakarta

Ini yang Bakal Dilakukan Bata setelah Tutup Pabrik di Purwakarta

Whats New
BI Upayakan Kurs Rupiah Turun ke Bawah Rp 16.000 Per Dollar AS

BI Upayakan Kurs Rupiah Turun ke Bawah Rp 16.000 Per Dollar AS

Whats New
Pasar Lampu LED Indonesia Dikuasai Produk Impor

Pasar Lampu LED Indonesia Dikuasai Produk Impor

Whats New
Produksi Naik 2,2 Persen, SKK Migas Pastikan Pasokan Gas Bumi Domestik Terpenuhi

Produksi Naik 2,2 Persen, SKK Migas Pastikan Pasokan Gas Bumi Domestik Terpenuhi

Whats New
Hasil Temuan Ombudsman atas Laporan Raibnya Dana Nasabah di BTN

Hasil Temuan Ombudsman atas Laporan Raibnya Dana Nasabah di BTN

Whats New
Penumpang LRT Jabodebek Tembus 10 Juta, Tertinggi pada April 2024

Penumpang LRT Jabodebek Tembus 10 Juta, Tertinggi pada April 2024

Whats New
Harga Emas Terbaru 9 Mei 2024 di Pegadaian

Harga Emas Terbaru 9 Mei 2024 di Pegadaian

Spend Smart
Sri Mulyani Masuk Bursa Cagub Jakarta, Stafsus: Belum Ada Pembicaraan..

Sri Mulyani Masuk Bursa Cagub Jakarta, Stafsus: Belum Ada Pembicaraan..

Whats New
Detail Harga Emas Antam Kamis 9 Mei 2024, Turun Rp 2.000

Detail Harga Emas Antam Kamis 9 Mei 2024, Turun Rp 2.000

Spend Smart
Harga Bahan Pokok Kamis 9 Mei 2024, Semua Bahan Pokok Naik, Kecuali Ikan Tongkol

Harga Bahan Pokok Kamis 9 Mei 2024, Semua Bahan Pokok Naik, Kecuali Ikan Tongkol

Whats New
Chandra Asri Group Akuisisi Kilang Minyak di Singapura

Chandra Asri Group Akuisisi Kilang Minyak di Singapura

Whats New
BTN Tegaskan Tak Sediakan Deposito dengan Suku Bunga 10 Persen Per Bulan

BTN Tegaskan Tak Sediakan Deposito dengan Suku Bunga 10 Persen Per Bulan

Whats New
[POPULER MONEY] TKW Beli Cokelat Rp 1 Juta Kena Pajak Rp 9 Juta | Pengusaha Ritel Minta Penjualan Elpiji di Warung Madura Diperketat

[POPULER MONEY] TKW Beli Cokelat Rp 1 Juta Kena Pajak Rp 9 Juta | Pengusaha Ritel Minta Penjualan Elpiji di Warung Madura Diperketat

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com