Salin Artikel

Harga Minyak Dunia Anjlok, Ini Dampaknya Menurut Sri Mulyani

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga minyak dunia pada hari ini, Senin (9/3/2020) terpantau merosot tajam hingga 30 persen.

Hal itu terjadi lantaran Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak Dunia (OPEC) dan Rusia gagal mencapai kesepakatan mengenai pengurangan produksi yang menyebabkan Arab Saudi memangkas harga lantaran bakal meningkatkan produksi minyaknya.

Hal itu mendorong adanya perang harga di antara anggota OPEC.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan masih harus melihat berbagai kemungkinan dampak penurunan harga minyak tersebut terhadap penerimaan negara dalam APBN.

Sri Mulyani mengatakan, meski penurunan harga minyak bisa menjadi stimulus di tengah kondisi perekonomian yang tertekan, meski di sisi lain memberikan ketidakpastian lebih besar terhadap pasar modal hingga pasar uang.

"Bagi Indonesia, terutama dari dunia dengan harga minyak yang turun di dalam kondisi ekonomi yang sedang tertekan, mungkin ini menjadi bentuk positif dalam artian bisa stimulate, tidak membebani. Namun ini menimbukan ketidakpastian lebih besar terhadap capital market, pasar uang, sehingga dampak psikologis akan memengaruhi dari sisi positif harga energi menjadi lebih murah," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Senin.

Berdasarkan pemantauan Kompas.com di Bloomberg pada pukul 11.45 WIB, harga minyak mentah acuan Brent merosot 28,67 persen atau 12,98 dollar AS per barrel menjadi 32,29 dollar AS per barrel.

Adapun untuk harga minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) terpangkas  31,59 persen sebesar 13,04 dollar AS per barrel menjadi 28,24 dollar AS per barrel.

Di dalam APBN, pemerintah mengasumsikan harga minyak dunia di level 63 dollar AS per barrel.

Sri Mulyani pun masih enggan memberikan paparan lebih jauh mengenai dampak penurunan harga minyak dunia terhadap penerimaan negara.

"Kalau seluruh postur APBN saya tidak akan komentar. Saya masih akan terus melihat perkembangan, tidak mau melihat sepenggal-sepenggal. Di satu sisi memertimbangkan stimulus ekonomi yang melemah, namun dari sisi penerimaan pasti tertekan karena harga minyak, ekonomi melemah, dan lainnya," ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Adapun analis Goldman Sachs memperkirakan, harga minyak dunia bisa tertekan hingga level 20 dollar AS per barrel.

Sri Mulyani mengatakan, pihaknya akan terus memantau dinamika harga minyak dan pasar minyak dunia.

Ditambah lagi saat ini ekonomi dunia juga dalam kondisi tertekan akibat wabah virus corona yang menghentikan sebagian besar aktivitas perdagangan dan perekonomian di dunia.

"Dinamika dari harga minyak dan pasar minyak dunia salah satu yang harus kita perhatikan sangat serius. Kegagalan persetujuan antara dua produsen minya terbesar dunia, antara Arab Saudi dengan Rusia, untuk mengurangi produksi, terutama dikaitkan dengan penurunan permintaan karena ada virus corona, kemungkinan terjadinya growth dunia menurun," ujar dia.

https://money.kompas.com/read/2020/03/09/133400126/harga-minyak-dunia-anjlok-ini-dampaknya-menurut-sri-mulyani

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.