Omzet Rp 20 Juta Bermula dari Dua Batang Buah Naga...

Kompas.com - 20/12/2016, 13:07 WIB
Pikap terbaru Daihatsu Hi-Max lebih kecil dari Gran Max. Febri Ardani/KompasOtomotifPikap terbaru Daihatsu Hi-Max lebih kecil dari Gran Max.
Penulis Reza Pahlevi
|
EditorPalupi Annisa Auliani

Untuk bisnis tanaman, intinya adalah memulai dengan mencoba menanam. Seperti Sudarto yang memakai halaman depan rumah sebagai lahan pertama, Anda juga bisa menggunakan pekarangan untuk mulai menanam.

Kalau pun tidak mempunyai lahan, jangan berkecil hati. Anda bisa menyewa sebidang tanah di dekat tempat tinggal.

Sebagai permulaan, tak perlu menanam banyak batang pohon dahulu. Dua batang buah naga seperti yang dilakukan Sudarto sudah cukup.

Setelah itu, rawat tanaman tersebut hingga menghasilkan. Kalau dirasa cukup berhasil, barulah tambah tanaman lagi.

Dalam bertani buah seperti ini, menambah tanaman secara berkala bisa menurunkan risiko kerugian bisnis.

Bersama semua itu, strategi penjualan harus dirancang dan dijalankan. Anda bisa meniru Sudarto yang menjual langsung hasil panennya ke pasar. Setelah cukup berkembang, barulah peluang menjual hasil panen ke luar kota perlu dijajal.

Agar strategi tersebut bisa berjalan lancar, Anda butuh kendaraan pengangkut. Dikarenakan beban yang dibawa cukup berat, pilihlah kendaraan operasional dengan daya angkut kuat serta mampu berjalan di berbagai lintasan. Daihatsu Hi-Max, misalnya.
Mobil  jenis pikap dengan dimensi yang ringkas ini bisa menjadi pilihan karena memiliki daya angkut cukup kuat sekalipun berbodi mungil. Dengan kriteria itu, pasar-pasar padat dan jalanan sempit akan tetap mudah diterobos.

Kelebihan lain, mobil ini irit bensin. Research and Development Executive Officer Astra Daihatsu Motor, Pradikto, mengatakan, satu liter bensin di kendaraan ini bisa dipakai untuk menempuh jarak 13,5 kilometer.

“Teknologi mesinnya itu sendiri sudah masuk kategori low cost green car (LCGC) sehingga irit bahan bakar. Tak cuma itu, banyak komponen berteknologi tinggi yang digunakan Hi-Max sehingga daya gesek antar-komponen di mesin kecil,“ papar Pradikto, kepada Kompas.com, Kamis (10/11/2016).

Dengan begitu, pendistribusikan hasil buah naga ke berbagai tempat akan menjadi semakin mudah. Lagi pula, keuntungan pun bisa bertambah karena konsumsi bahan bakar yang irit.

Berani mencoba?

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X