Ini Kata OJK soal Laporan Garuda Indonesia yang Ditolak Komisarisnya

Kompas.com - 02/05/2019, 14:02 WIB
Direktur Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa OJK, Nur Sigit Warsidi di Hotel Century Park, Jakarta, Kamis (2/5/2019). KOMPAS.com/MURTI ALI LINGGA Direktur Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa OJK, Nur Sigit Warsidi di Hotel Century Park, Jakarta, Kamis (2/5/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Laporan keuangan PT Garuda Indonesia (persero) Tbk atau GIAA tahun 2018 menuai polemik karena menempatkan piutang menjadi pendapatan. Ini yang sebab dua komisarisnya, Chairal Tanjung dan Dony Oskaria, menolak laporan keuangan tersebut.

Direktur Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa OJK, Nur Sigit Warsidi, mengatakan, adanya pengakuan pendapatan pada periode laporan itu biasa dan bisa terjadi. Hanya saja, semua itu harus kembali merujuk pada aturan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 23.

"Soal Garuda, saya normatif saja karena enggak pegang data. Apakah suatu transaksi itu sudah bisa diakui sebagai suatu pendapatan atau tidak, itu di PSAK sudah ada," kata Nur ditemui di Hotel Century Park, Jakarta, Kamis (2/5/2019).

Nur tidak menjelaskan, apakah menempatkan piutang menjadi pendapatan itu bisa dilakukan dalam sebuah laporan perusahaan atau tidak.

Baca juga: Rhenald Khasali: Tiap Kondisi Keuangan Membaik, Garuda Selalu Heboh

"Itu bisa cek kalau kita lihat kontraknya, di dalamnya seperti apa," ujarnya.

Dia mengatakan, sebuah pengakuan pendapatan dalam laporan tahunan di semua perusahaan berlaku sama atau umum. Namun, ada hal spesifik yang memang harus perhatikan dan dipenuhi.

"Itu ada detali-detail yang harus dipenuhi, apakah suatu transaksi itu bisa diakui sebagai pendapatan, itu kriterianya," sebutnya.

"Kalau pendapatan belum dibayar secara cash ya otomatis dianggap sebagai piutang. Jadi dua-duanya dicatat, bukan piutang misalnya 'itu kan piutang tidak boleh diakui sebagai pendapatan' tidak begitu. Bisa dicatat bersamaan, namanya double entry kalau ada debetnya, ada kreditnya," tambah dia.

Meskipun demikian, Nur menyatakan, fakta-fakta itu masih normatif saja. Ia enggan menyalahkan pihak atau seseorang dalam polemim yang melanda perusahaan pelat merah itu.

"Itu normatif saya bilang, karena tidak lihat datanya. Saya tidak bisa menghakimi," tambahnya.

Baca juga: Chairal Tanjung Tolak Laporan Keuangan Garuda Indonesia, Apa Sebabnya?

Sebelumnya, diberitakan laporan keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tahun lalu ditolak oleh dua komisarisnya yakni Chairal Tanjung dan Dony Oskaria.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X