BPOM: Menurun, Peredaran Pangan Takjil Tak Penuhi Syarat

Kompas.com - 20/05/2019, 14:50 WIB
Petugas BBPOM DIY melakukan Pengambilan Sampel Makanan Pedagang Takjil di Kota Wonosari, Gunungkidul Kamis (16/5/2019) KOMPAS.com/MARKUS YUWONOPetugas BBPOM DIY melakukan Pengambilan Sampel Makanan Pedagang Takjil di Kota Wonosari, Gunungkidul Kamis (16/5/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM) Penny K Lukito menjelaskan, pangan jajanan berbuka puasa ( takjil) Tidak Memenuhi Syarat (TMS) menurun pada tahun ini dibanding tahun 2018.

"Jika dibandingkan dengan data intensifikasi pangan tahun 2018, tahun ini terjadi penurunan persentase produk takjil yang TMS," kata Penny K. Lukito di Jakarta, Senin (20/5/2019).

Berdasarkan data BPOM, hingga minggu ketiga Ramadhan hanya terdapat 83 sampel atau 2,96 persen pangan takjil Tidak Memenuhi Syarat (TMS) yang dikelompokkan dalam 4 kategori. Kategori tersebut antara lain agar-agar, minuman berwarna, mie, dan kudapan.

Baca juga: Ramadhan, BPOM Sita Produk Pangan Tak Layak Edar Senilai Rp 3,4 Miliar

Penny mengatakan, penurunan ini disebabkan kesadaran masyarakat akan keamanan pangan semakin meningkat disamping upaya BPOM bersama kementerian dan lembaga terkait gencar melakukan sosialisasi dan edukasi kepada pelaku usaha.

"Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran dan pemahaman pedagang takjil yang kebanyakan Ibu Rumah Tangga terhadap keamanan pangan semakin meningkat," jelas Penny.

Meski mengalami penurunan, Penny menegaskan bahwa BPOM akan terus melakukan pengawasan pangan secara intensif hingga 7 Juni 2019 mendatang melalui 33 Balai Besar (Balai POM) dan 40 kantor BPOM.

"Masih ada 4 minggu ke depan hingga minggu ke-2 setelah Lebaran, kami akan terus melakukan sidak secara rutin mengingat kebutuhan pangan hingga hari itu masih tinggi," ujarnya.

Baca juga: Ramadhan, Ini 3 Anjuran BPOM untuk Beli Makanan dan Minuman Kemasan

Target intensifikasi pengawasan pangan papar Penny, akan terfokus pada pangan olahan Tanpa Izin Edar (TIE) atau ilegal, kedaluwarsa, kemasan rusak, dan pangan takjil yang kemungkinan mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, rhodamin B, dan methanyl yellow.

"Target tempatnya yaitu sarana ritel pangan, warung, pasar tradisional, supermarket, dan pembuat parsel lebaran," ucapnya.

Diketahui, sampai 10 Mei 2019 BPOM telah menemukan 170.119 kemasan produk pangan rusak, kedaluwarsa, dan ilegal dari 796 sarana distribusi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X