OJK Larang Akses Data Nasabah, Bagaimana Sikap pelaku Fintech?

Kompas.com - 22/05/2019, 12:15 WIB
Ilustrasi fintech.Shutterstock Ilustrasi fintech.

JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) telah mengeluarkan pernyataan yang  melarang fintech mengakses data nasabah karena maraknya pengaksesan data pribadi tanpa seizin nasabah.

Padahal, data-data nasabah sangat penting dalam proses underwriting di fintech. Lalu, apakah pelarangan akses data ini akan berpengaruh pada kinerja mitigasi risiko fintech tanah air?

Terkait dengan hal itu, Co-Founder Ammana Lutfi Adhiansyah mengatakan, pelarangan akses data memang sedikit banyak berpengaruh pada fintech mengingat semakin banyak data yang diambil sebenarnya semakin baik untuk memitigasi risiko. Tapi, besaran dampaknya tergantung dari sektor masing-masing fintech.

"Ya, itu pasti ada impact-nya. Tapi impact itu tergantung dari sektor fintech itu sendiri, sektor riil atau speed," kata Lutfi Adhiansyah di Jakarta, Selasa (21/5/2019).

Menurut Lutfi, dampak pelarangan akses data untuk fintech bersektor riil lebih kecil ketimbang sektor speed.

"Kalau fintech bersektor riil dampaknya tidak terlalu signifikan karena ketika kita bicara sektor riil, bukan speed yg diutamakan tapi kualitas," kata Lutfi.

"Mungkin kalau fintech yang mengutamakan speed terutama yang pelayanannya di kota, yang verifikasinya hanya memakai KTP dan NPWP akan sangat impact," paparnya.

Kendati terdampak, Lutfi menyarankan agar fintech tanah air mencari cara untuk mengumpulkan data (gathering data). Apalagi, fintech memang menjadi andalan untuk menciptakan inovasi baru disamping infrastruktur fintech belum siap di Indonesia.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X