Kompas.com - 03/07/2019, 09:46 WIB
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso dalam sambutannya sela-sela acara Halal Bihalal Perum Bulog di Jakarta, Selasa (2/7/2019). FIKA NURUL ULYADirektur Utama Perum Bulog Budi Waseso dalam sambutannya sela-sela acara Halal Bihalal Perum Bulog di Jakarta, Selasa (2/7/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso alias Buwas mengaku kesulitan mengekspor beras Indonesia. Ekspor beras ini terhenti karena beras Indonesia belum mampu bersaing dengan beras asal negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam dari sisi harga dan proses produksi.

"Masalah ekspor enggak lanjut, jujur saja. Sebenarnya yang membutuhkan beras kita banyak tapi harganya enggak masuk, karena beras kita mahal dibanding beras Thailand dan Vietnam," kata Budi Waseso di Jakarta, Selasa (2/7/2019).

Buwas menjelaskan, beras asal Thailand dan Vietnam lebih murah dan tahan lama karena produksinya sudah menggunakan proses mekanisasi. Ini tak seperti Indonesia yang masih menggunakan alat konvensional seperti tenaga manusia.

"Saya akui kualitas beras impor itu memang hebat karena proses produksinya bagus sudah mekanisasi. Lebih bisa tahan lama dibanding beras dalam negeri, walaupun sudah 1 tahun belum ada perubahan yang signifikan," tutur Buwas.

Padahal, opsi ekspor ini seharusnya dilakukan Bulog untuk mencegah kebusukan stok di gudang. Saat ini gudang Bulog tengah menampung 2,3 juta ton mendekati ambang batas kapasitas gudang sebesar 2,7 juta ton.

Jika ekspor dilakukan, kata Buwas, penyerapan gudang Bulog untuk beras baru bisa maksimal. Buwas menegaskan, meski kalah dengan beras negara tetangga, bukan berarti beras Indonesia mesti impor terus-menerus. Bahkan kalau bisa tidak perlu impor.

"Bukan berarti harga kalah, kita impor. Bukan itu alasan untuk impor. Kalau itu alasannya kita membunuh petani. Kalau bisa tidak perlu impor. Saya punya keyakinan bisa. Wong tanah kita subur, negaranya agraris, masa iya sih kita impor," tegas Buwas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Sekarang kedelai, jagung, garam, gula masih didominasi impor. Padahal kalau Kementrian dan Lembaga (K/L) kelola sendiri dengan sinergi yang baik, saya yakin bisa," lanjut dia.

Terkait kesiapan Bulog jika impor diberhentikan, Buwas mengaku keputusan itu akan tergantung penugasan Kementrian dan Lembaga (K/L) untuk Bulog.

"Kalau ditanya impor, saya tergantung penugasan. Kalau problem ini diserahkan ke Bulog, kita kerjasama dengan BPS dan BI nanti. Kita lihat prediksi cuaca, kalau musim kering berarti ada ancaman produksi tanaman berkurang. Nah ini bisa kita siapkan dari sekarang untuk nampung bahan pangan itu," papar Buwas.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.