Miliarder Pendiri Uniqlo Ingin Jabatannya Digantikan oleh Perempuan

Kompas.com - 04/09/2019, 16:03 WIB
Salah satu toko Uniqlo di Jepang. Business InsiderSalah satu toko Uniqlo di Jepang.

TOKYO, KOMPAS.com - Tadashi Yanai, miliarder pendiri dan CEO Fast Retailing Co, induk usaha ritel mode Uniqlo menginginkan posisinya digantikan oleh perempuan.

Yanai, yang kini berusia 70 tahun, memandang kondisi tersebut akan lebih baik bagi jaringan ritel terbesar di Asia itu.

"Pekerjaan (saya ini) lebih sesuai untuk perempuan. Mereka tekun, berorientasi pada detail, dan memiliki rasa estetis," jelas Yanai, dikutip dari Bloomberg, Rabu (4/9/2019).

Dengan usianya yang telah senja, Yanai kerap ditanyakan mengenai suksesi di tubuh perusahaan yang didirikannya.

Baca juga: Sudahkah Teknologi Memperkuat Gaya Bisnis Perempuan Indonesia?

Fast Retailing dirintis dari toko jahit milik ayah Yanai, yang kemudian bertransformasi menjadi raksasa mode global.

Kandidat yang paling memungkinkan adalah Maki Akaida, yang pada tahun ini ditunjuk memimpin operasional Uniqlo di Jepang.

Yanai mengatakan, dirinya ingin menaikkan rasio perempuan di jajaran eksekutif senior Fast Retailing menjadi lebih dari separuh.

Adapun saat ini Fast Retailing memiliki enam orang perempuan di jajaran eksekutif senior, setelah pada tahun lalu memenuhi target 30 persen perempuan menduduki posisi manajemen.

Baca juga: IFC: Perempuan Berdampak Positif Bagi Perusahaan

Sebagai gambaran, Jepang menghadapi sorotan lantaran memiliki keberagaman gender yang minim pada posisi manajemen tinggi.

Hanya 4,1 persen jabatan eksekutif di perusahaan-perusahaan terbuka Jepang yang diduduki oleh perempuan.

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara maju lainnya, seperti Amerika Serikat (AS), di mana perempuan menduduki 25 persen jabatan eksekutif.

"Ini adalah kemungkinan," sebut Yanai ketika ditanya apakah Akaida menjadi pengganti potensial dirinya.

Akaida yang saat ini berusia 40 tahun bergabung dengan Fast Retailing pada tahun 2001.

Sepanjang kariernya, ia telah mengelola gerai-gerai Uniqlo di China dan Jepang, pun bekerja di divisi penjualan dan personalia.

Baca juga: Jakarta Masuk 50 Besar Kota Terbaik bagi Pengusaha Perempuan

Siapapun pengganti Yanai akan mengemban warisan merek Jepang yang paling dikenal dalam tataran global, setelah Fast Retailing fokus ekspansi Uniqlo ke luar negeri.

Pendapatan ritel mode itu pun terus tumbuh secara konsisten, di mana pada tahun 2018 mencapai 2 triliun ten atau setara sekira Rp 267,5 triliun, mayoritas didongkrak pembukaan gerai-gerai baru di beragam negara, mulai dari China hingga AS.

Perdana Menteri Shinzo Abe telah berupaya untuk mempromosikan perempuan dalam angkatan kerja di tengah kekurangan tenaga kerja, dipicu populasi Jepang yang menua dan menyusut.

Dengan angka kelahiran yang menurun, jumlah orang akan merosot hampir sepertiga pada tahun 2060, pada saat itu sekitar 40 persen akan berusia 65 tahun ke atas, menurut Institut Riset Kependudukan dan Jaminan Sosial Nasional.

"Kami dalam bisnis menjual pakaian, itu tidak begitu baik ketika kami sudah tua," tutur Yanai.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Sumber Bloomberg
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X