Christine Lagarde Jadi Perempuan Pertama Pimpin Bank Sentral Eropa

Kompas.com - 13/09/2019, 07:33 WIB
Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde memberikan keterangan pers terkait  Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali International Convention Center, Kawasan Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10). 
ANTARA FOTO/WISNU WIDIANTORODirektur Pelaksana IMF Christine Lagarde memberikan keterangan pers terkait Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali International Convention Center, Kawasan Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10).

Baca juga: Sri Mulyani Semangati Lagarde yang Jadi Calon Bos Bank Sentral Eropa

Kemudian, dia menjadi perempuan pertama yang memegang jabatan sebagai menteri keuangan negara G7. Pada 2011, dia menjadi perempuan pertama yang memimpin IMF.

Di IMF, ia mengorganisir dana talangan untuk Argentina dan Yunani.

Saat menduduki jabatannya yang sekarang, dia dipuji lantaran berhasil memimpin IMF di Washington pasca-krisis keuangan.

Karirnya selalu berada di posisi penting, menjabat Menteri Ekonomi, Keuangan dan Pekerjaan, Menteri Pertanian dan Perikanan, hingga Menteri Perdagangan Perancis. Di pemerintahan Prancis, dia menjabat selama krisis keuangan global.

Lagarde kerap dilabeli sebagai perempuan pertama dalam setiap perjalanan karirnya. Di ECB pun, dia menjadi calon pemimpin wanita pertama.

Di ECB, Lagarde punya tanggung jawab besar menyusun setiap langkah terbaik untuk Eropa. Dia dituntut memiliki insting politik yang cerdas di tingkat nasional dan tingkat internasional, serta koneksi mendalam dalam keuangan global.

Pemimpin Periode Sulit

Lagarde bakal diangkat untuk menjadi Gubernur ECB pada periode sulit. Pertumbuhan ekonomi global yang melambat telah terlihat tanda-tanda kelemahan yang sangat akut di Eropa. PDB zona euro pun dipatok pertumbuhan 1,2 persen tahun ini.

Kelemahan seperti itu dapat meningkatkan guncangan besar dalam ekonomi global. Mulai dari hubungan perdagangan global yang tak pasti hingga tingkat utang tinggi Italia yang diproyeksi stagnan di atas 130 persen dari PDB tahun ini.

Inggris pun masih belum memiliki rencana perlindungan perdagangan bila resmi keluar dari UE. Jika salah satu dari masalah ini berubah menjadi krisis, ECB bisa bermasalah.

Itulah yang membuat orang terkejut atas keputusannya untuk berani mengambil langkah sebagai wanita pertama memimpin ECB. Tapi nampaknya dia akan berhasil memimpin ECB, sebab dirinya memang telah berpengalaman memimpin periode sulit.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X