Kemenhub Intensifkan Pemantauan Bandara Terdampak Kabut Asap Karhutla

Kompas.com - 17/09/2019, 11:11 WIB
Kejadian kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap pekat dan tebal menyelimuti Kota Palangkaraya. KOMPAS.com/ KURNIA TARIGANKejadian kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap pekat dan tebal menyelimuti Kota Palangkaraya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus memantau dan berkoordinasi intens dengan sejumlah pihak ihwal kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia.

Akibat dari kondisi itu, beberapa layanan bandara ditutup serta maskapai mengalami penundaan bahkan dibatalkan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Polana B Pramesti mengatakan, berdasarkan data yang diperoleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, beberapa layanan bandara di Sumatera dan Kalimantan telah dibatalkan. 

Baca juga: Ekspor Riau Turun, karena Kabut Asap?

Kemudian di Kalimantan Barat (Kalbar) juga ada beberapa bandara yang mengalami gangguan seperti Bandara Internasional Supadio Kalimantan Barat dan Bandar Udara Pangsuma.

"Untuk di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) bandara yang mengalami gangguan adalah Bandara Kalimarau Berau, Kalimantan Timur sesuai dengan NOTAM No C8456/19/ NOTAMR C8444/19 dengan jarak pandang 400 m, sementara itu Bandara A.P T Pranoto  Samarinda, Kalimantan Timur dengan No C8445 /19 NOTAMN dengan jarak pandang 3000 m," kata Polana dalam keteranganya diterima Kompas.com, Selasa (17/9/2019).

Polana menjelaskan, sementara itu di Kalimantan Tengah, bandara yang mengalami ganguan adalah Bandar Udara H Asan Sampit dan Bandar Udara Tjilik Riwut Palangkaraya. Jarak pandang di kedua bandara ini bervariasi akibat sebaran kabut asap Karhutla.

Baca juga: Bappenas: Risiko Kabut Asap di Ibu Kota yang Baru Paling Rendah

Polana mengakui, akibat sebaran asap  dari karhutla sejumlah penerbangan di wilayah Kalimantan mengalami penutupan. Bahkan kabut asap membuat jarak pandang terbatas mengakibatkan pembatalan penerbangan.

“Dengan kondisi saat ini, kami akan  terus berkoordinasi melalui dengan  Otoritas Bandar Udara (OBU), operator penerbangan, AirNav Indonesia, Maskapai dan stakeholder terkait sehingga semua tim dapat tetap memperhatikan keselamatan   penerbangan,” tambahnya.

Disamping itu, Polana mengimbau kepada seluruh operator penerbangan  agar dapat siap siaga dan memberikan  rekomendasi yang tepat. Karena  keselamatan adalah "No Go Item" atau persyaratan komponen layak.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X