OJK: Pasar Modal RI Dicemburui Negara Tetangga

Kompas.com - 26/10/2019, 15:10 WIB
Dewan Komisioner Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen di Jakarta, Kamis (9/5/2019). KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMADewan Komisioner Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen di Jakarta, Kamis (9/5/2019).
Penulis Mutia Fauzia
|

LOMBOK, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) menilai pasar modal dalam negeri mengalami pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan negara lain.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Hoesen, mengatakan beberapa negara tetangga mengalami pertumbuhan negatif dalam hal jumlah emiten. Dia mencontohkan jumlah emiten di pasar modal Singapura yang sulit bertambah karena pasar modal di Negeri Singa sudah jenuh.

" Pasar modal Indonesia dicemburui negara tetangga, karena dengan kondisi perekonomian global kita masih bisa tumbuh dengan meyakinkan," kata Hoesen dalam sharing session dengan media di Lombok, Jumat (25/10/2019).

Baca juga: Periode Kedua Jokowi, Dirut BEI Ingin Lebih Banyak BUMN Melantai di Bursa

Sebagai informasi, berdasarkan data dari Ernst and Young Global IPO Trends kuartal III-2019, pertumbuhan perusahaan tercatat di Singapura negatif 4,8 persen.

Pasalnya, jumlah perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa Singapura per 18 Oktober 2019 hanya mencapai 11 perusahaan. Sementara, di Indonesia, pada periode yang sama ada 41 perusahaan yang melantai di bursa.

Hoesen mengatakan, Indonesia masih memiliki ruang yang sangat besar untuk tumbuh. Sebab hingga saat ini, jumlah investor ritel dalam negeri belum mencapai 1 persen dari populasi penduduk.

Baca juga: Grand Indonesia dan Plaza Indonesia Gelar Pesta Diskon Akhir Tahun

Dalam hal jumlah emiten, Indonesia juga cenderung lebih sedikit jika dibanding negara lain. Hingga saat ini, Indonesia memiliki 655 emiten..

Sebagai informasi, secara pertumbuhan jumlah investor terus meningkat dari tahun ke tahun. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat hingga 23 Oktober 2019, jumlah investor di pasar saham berjumlah 2,28 juta investor. 

Investor saham telah mengalami peningkatan hampir dua kali lipat atau sebesar 194 persen sejak tahun 2014, menjadi sebanyak 1,055 juta investor. Kemudian, investor reksa dana juga mengalami peningkatan hampir tiga kali lipat atau sebesar 345 persen sejak tahun 2014 menjadi sebanyak 1,5 juta investor.

Investor Surat Berharga Negara (SBN) pun mengalami pertumbuhan signifikan.Tercatat per Oktober 2019, investor SBN tumbuh 276 persen sejak 2014 menjadi 304.321 investor. 

Baca juga: Promo Akhir Tahun, Ada Program Harga Teman di Giant

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X