Jumlah Tenaga Kerja Turun 1.000 Orang, Ini Kata Kepala BKPM

Kompas.com - 31/10/2019, 17:03 WIB
Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia sebelum pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden RI Joko Widodo mengumumkan dan melantik Menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju serta pejabat setingkat menteri. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOKepala BKPM, Bahlil Lahadalia sebelum pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden RI Joko Widodo mengumumkan dan melantik Menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju serta pejabat setingkat menteri.

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Koordinasi Penanaman Modal kembali melaporkan pertumbuhan realisasi investasi di kuartal III 2019. Pertumbuhan tersebut naik 18,4 persen (yoy) menjadi Rp 205,7 triliun. 

Pertumbuhan itu membuat realisasi investasi sepanjang Januari-September 2019 mencapai Rp 601,3 triliun atau tumbuh 12,3 persen (yoy) dan telah mencapai 75,9 persen dari target tahun 2019.

Angka itu terdiri atas realisasi PMDN sebesar Rp 283,5 triliun (naik 17,3 persen) dan realisasi PMA sebesar Rp 317,8 triliun (naik 8,2 persen). 

Kendati demikian, kenaikan realisasi investasi tidak dibarengi dengan kenaikan jumlah tenaga kerja. Dari Januari-September 2018, jumlah tenaga kerja yang terserap dari investasi sebanyak 704.813 orang.

Namun di periode yang sama tahun 2019, serapan tenaga kerja justru turun tipis menjadi 703.296 orang. Ada penurunan kurang lebih 1.000 tenaga kerja.

Baca juga: Pemerintah Jamin Tenaga Kerja Lokal Akan Diutamakan dalam Pembangunan Ibu Kota Baru

Menanggapi hal tersebut, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, hal tersebut biasa terjadi. Dia menganggap, angka penurunan tenaga kerja yang terjadi dari periode ke periode itu berjumlah sedikit.

"Cuma beda sedikit itu. Beda sedikit saja. Ya, biasa saja ini ada yang padat karya ada yang mesin. Jadi saya pikir bukan substantif," kata Bahlil Lahadalia di Jakarta, Kamis (31/10/2019).

Dia berpandangan, memang di masa-masa awal saat industri masih proses konstruksi, industri akan membutuhkan tenaga manual (manusia).

Namun ketika industri sudah berkembang, industri tersebut pasti akan membutuhkan mesin karena kapasitas produksi semakin banyak dan membutuhkan waktu cepat.

"Awalnya di tempat itu masih manual, tapi masa manual terus pasti kan perusahaan butuh mesin-mesin. Begitu butuh mesin sebagai alat bantu, ada pemangkasan tenaga kerja," ujar dia.

"Dan saya pikir enggak ada apa-apa lah 1.000 (orang) tuh. Enggak usah dipertentangkan," sanggahnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X