Menurut BI, Ini Penyebab Pertumbuhan Kredit Melambat

Kompas.com - 21/11/2019, 17:44 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Perry Warjiyo pada acara pelantikan Ketua ISEI cabang Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/2/2019). Dok. ISEIGubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Perry Warjiyo pada acara pelantikan Ketua ISEI cabang Kendari di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (4/2/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia ( BI) mengaku pertumbuhan kredit mengalami perlambatan. Secara bulanan (month to month/mtm), pertumbuhan kredit tercatat sebesar 7,89 persen pada September 2019.

Angka ini lebih rendah dibandingkan pada Agustus 2019, yang pertumbuhannya mencapai 8,59 persen.

Lambatnya pertumbuhan kredit ini dipengaruhi permintaan kredit dari pelaku usaha maupun perusahaan-perusahaan yang belum berkeinginan untuk meminjam modal buat ekspansi.

"Kami mendiskusikan faktor-faktor yang mendorong atau menyebabkan pertumbuhan kredit masih melambat, kami berkesimpulan bahwa ini lebih banyak dipengaruhi oleh masih lemahnya permintaan kredit yang dari sisi korporasi hingga saat ini masih belum kuat," ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo, di Gedung BI, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Baca juga: Disindir Jokowi Soal Bunga Kredit, Ini Kata Bankir

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada September 2019 tercatat sebesar 7,47 persen (yoy), menurun dibandingkan dengan pertumbuhan Agustus 2019 sebesar 7,62 persen (yoy).

Dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut, lanjut Perry, pertumbuhan kredit perbankan 2019 diprakirakan sekitar 8 persen dan ditopang oleh pertumbuhan DPK juga sekitar 8 persen.

Perry juga menyebut, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, meskipun fungsi intermediasi perbankan menjadi perhatian.

Stabilitas sistem keuangan terjaga tercermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan September 2019 yang tinggi yakni 23,19 persen.

Baca juga: Jokowi Minta Perbankan Segera Turunkan Suku Bunga Kredit

Sementara, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) masih terjaga tetap rendah yakni 2,66 persen (gross) atau 1,18 persen (net).

"Kinerja korporasi go public yang tetap terjaga seiring kemampuan membayar yang cukup sehat juga menopang stabilitas sistem keuangan," katanya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X