Keuntungan Sindikat Penyelundup Benih Lobster Tak Main-main

Kompas.com - 16/12/2019, 13:38 WIB
Tim Satgasgab F1QR Koarmada I berhasil menggagalkan aksi penyelundupan baby lobster berbagai jenis yang nilainya mecapai Tp 13,8 miliar dari Batam ke Singapura, Minggu (11/8/2019). HADI MAULANATim Satgasgab F1QR Koarmada I berhasil menggagalkan aksi penyelundupan baby lobster berbagai jenis yang nilainya mecapai Tp 13,8 miliar dari Batam ke Singapura, Minggu (11/8/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyelundupan benih lobster masih sangat tinggi. Hal ini yang mendorong Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo membuka kembali ekspor benur.

Edhy mengaku punya cukup alasan merevisi Peraturan Menteri (Permen) Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari Indonesia.

Dikatakannya, angka penyelundupan benih lobster sangatlah tinggi. Ketimbang jadi selundupan yang tak menguntungkan negara, lebih baik ekspor dibuka sehingga mudah dikendalikan.

Melansir pemberitaan harian Kompas pada 22 Januari 2019, penyelundup benur seolah tak pernah jera. Ini karena keuntungan yang didapatkan mengalahkan ketakutan pada ancaman hukuman pidana.

Berdasarkan data Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Surabaya I, frekuensi penyelundupan benih lobster selama 2018 di Jawa Timur sebanyak 24 kasus dengan jumlah benih yang diselamatkan 323.818 ekor atau senilai Rp 40 miliar.

Baca juga: Cerita Susi Sentil Singapura Karena Jadi Transit Lobster Selundupan

Di Jambi, sepanjang tahun 2018, enam kali penyelundupan lobster jenis mutiara dan pasir digagalkan. Barang bukti yang disita petugas gabungan sebanyak 431.918 benih lobster dengan nilai jual Rp 62 miliar.

Tahun 2017, upaya penyelundupan juga dilakukan meskipun kasus yang terungkap tak sebanyak tahun 2018. Pun tahun 2015 dan 2016, juga dilakukan penyelundupan, di antaranya melalui Bandara Adisutjipto, Yogyakarta.

Saat itu, sebanyak 320.000 benih lobster senilai Rp 5,4 miliar disimpan di enam koper besar yang hendak dikirim ke Singapura.

Kepala Seksi Pengawasan, Pengendalian, dan Informasi BKIPM Surabaya I Wiwit Supriyono mengatakan, sanksi pidana yang dijatuhkan kepada pelaku penyelundupan terbilang ringan.

Sanksi itu tidak sebanding dengan kerugian negara yang ditimbulkan dan usaha yang dikeluarkan untuk menangkap pelaku.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X