Apa yang Terjadi pada Harga Minyak jika Pecah Perang AS-Iran?

Kompas.com - 06/01/2020, 18:47 WIB
Tangki dan pipa minyak Aramco di kilang minyak Ras Tanura dan terminal minyak di Arab Saudi pada 21 Mei 2018. (REUTERS/Ahmed Jadallah) Ahmed JadallahTangki dan pipa minyak Aramco di kilang minyak Ras Tanura dan terminal minyak di Arab Saudi pada 21 Mei 2018. (REUTERS/Ahmed Jadallah)

JAKARTA, KOMPAS.com - Mitch Kahn, seorang trader minyak di New York Mercantile Exchange (NYMEX), masih ingat betul bagimana dirinya sangat menyesal menjual minyak terlampau cepat. Itu jadi salah satu hal yang paling disesalinya.

Itu terjadi ketika dimulai Perang Teluk II saat Amerika Serikat (AS) menginvasi Irak untuk menjatuhkan Saddam Husein di tahun 2003. Di hari pertama pertempuran, harga minyak mentah di AS melonjak tajam mencapai 10 dollar AS per barel.

Ini artinya seorang bisa meraup untung dengan sangat cepat jika trader minyak mau bersabar menahan untuk tidak menjual minyak. Sebaliknya, jadi kerugian sangat besar bagi yang buru-buru memutuskan menjual saat itu.

Dikutip Kompas.com dari BBC, Senin (6/1/2020), harga minyak pada waktu-waktu selanjutnya naik turun bak roller coaster. Bahkan dalam situasi perang itu, menurut Kahn, dalam beberapa menit harga minyak langsung turun lebih dari 20 dollar AS per barel setelah sebelumnya naik tajam.

Namun, naik turun harga minyak setelah memanasnya hubungan AS- Iran belakangan ini, meski sampai terjadi perang sekalipun, diprediksi tak akan separah saat invasi AS ke Irak.

Baca juga: Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Kian Mendidih

Harga minyak brent melonjak lebih dari 1,4 persen atau mencapai 69,5 dollar per barel pada hari Jumat (3/1/2020) lalu. Kemudian, harga minyak dunia sempat mengalami kenaikan setelah kabar meninggalnya Jenderal Iran Qasem Soleimani tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS di bandara Baghdad.

Seperti diungkapkan Michael Widmer, seorang pakar komoditas di Bank of America, salah satu penyebabnya, lantaran AS sudah memiliki cadangan minyak dan gas yang cukup, baik dari ladang minyak sendiri maupun negara lain di luar OPEC, sehingga tak lagi terlalu bergantung pada negara-negara Timur Tengah.

Di luar AS, secara global, harga minyak dunia juga tak akan mengalami goncangan seperah seperti saat perang di Irak karena beberapa alasan. 

"Kondisi telah berubah drastis," kata dia.

Dia mencontohkan, serangan drone pada fasilitas minyak milik Arab Saudi pada September lalu. Harga minyak relatif tidak bergerak tajam.

Baca juga: Konflik Iran-AS Kian Panas, Harga Minyak Dunia Tembus 70 Dollar AS Per Barel

Selain itu, OPEC yang dulu jadi pengendali harga minyak, saat ini tak lagi memiliki pengaruh sebesar dulu. Kekurangan pasokan minyak, malah direspon dengan peningkatan produksi minyak negara non-OPEC.

"Sekarang ketika OPEC memangkas jumlah produksinya, itu malah membuat lebih banyak ruang bernafas bagi negara lain untuk menambah jumlah (minyak) mereka," kata Widmer.

Selain itu, OPEC yang dulunya memproduksi setengah dari kebutuhan minyak dunia, saat ini produksinya telah merosot tak sampai sepertiganya.

Diungkapkan Kepala Riset Marketing Wood Mackenzie, Alan Gelder, dalam Perang Teluk yang dimulai tahun 1990, minyak datang dari dua tempat.

Pertama disuplai dari OPEC, kedua minyak yang diproduksi negara di luar OPEC yang produksinya mahal dan berisiko tinggi seperti di Laut Utara.

Baca juga: Serangan AS Tewaskan Pimpinan Militer Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak

Beberapa dekade lalu, mencari dan mengebor minyak di kedalaman laut memerlukan biaya tinggi. Sekarang teknologi yang semakin berkembang di dunia perminyakan, membuat produksi di kedalaman laut yang sulit sekalipun bisa dilakukan dengan ongkos murah.

Ini membuat pemain minyak semakin banyak, yang di sisi lain mengurangi pengaruh OPEC.

"Sekarang ada lebih banyak pemain di pasar," kata dia.

Selain itu, sambungnya, saat ini informasi persediaan minyak juga jauh lebih transparan dibanding puluhan tahun lalu, dimana harga sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar.

Ketika fasilitas minyak Arab Saudi diserang September lalu, citra satelit dari kapal yang dengan jelas menunjukan pelabuhan dan pabrik mulai beroperasi dan kembali mengekspor minyak dengan cepat. Informasi itu juga cepat beredar di kalangan trader. 

"Bertahun-tahun yang lalu, orang-orang akan dengan panik memanggil satu sama lain, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi," katanya.

Saat ini OPEC dan perusahaan penghasil minyak lainnya seperti Rusia, telah sepakat untuk menahan diri untuk memproduksi sebanyak mungkin minyak.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER MONEY] Luhut Tetap Ingin Tuntut Said Didu | Jumlah Paten China Kalahkan AS

[POPULER MONEY] Luhut Tetap Ingin Tuntut Said Didu | Jumlah Paten China Kalahkan AS

Whats New
Bill Gates Prediksi AS Benar-benar Terbebas dari Virus Corona Pada Tahun 2021

Bill Gates Prediksi AS Benar-benar Terbebas dari Virus Corona Pada Tahun 2021

Whats New
Kadin Usul Pemerintah Bantu Bayar THR Karyawan

Kadin Usul Pemerintah Bantu Bayar THR Karyawan

Whats New
Wastafel Portabel Produksi BLK Lembang Mulai Didistribusikan

Wastafel Portabel Produksi BLK Lembang Mulai Didistribusikan

Whats New
Kemenhub Godok Aturan soal Pengendalian Mudik 2020

Kemenhub Godok Aturan soal Pengendalian Mudik 2020

Whats New
1,2 Juta Pekerja Dirumahkan dan PHK, Menaker Minta Pengusaha Cari Solusi Lain

1,2 Juta Pekerja Dirumahkan dan PHK, Menaker Minta Pengusaha Cari Solusi Lain

Whats New
BAZNAS Salurkan Infak Biaya Asuransi untuk 17.000 Relawan Gugus Tugas Covid-19

BAZNAS Salurkan Infak Biaya Asuransi untuk 17.000 Relawan Gugus Tugas Covid-19

Whats New
Pemerintah Alihkan Dana Desa hingga Rp 24 Triliun untuk BLT

Pemerintah Alihkan Dana Desa hingga Rp 24 Triliun untuk BLT

Whats New
Siap-siap, Pemerintah Bakal Guyur 250.000 Ton Gula ke Pasar

Siap-siap, Pemerintah Bakal Guyur 250.000 Ton Gula ke Pasar

Whats New
DANA Ajak Penggunanya Mendata Warung, Untuk Apa?

DANA Ajak Penggunanya Mendata Warung, Untuk Apa?

Whats New
Dukung Pembatasan Sosial, PGN Terapkan Catat Meter Mandiri dan Dorong Pembayaran Daring

Dukung Pembatasan Sosial, PGN Terapkan Catat Meter Mandiri dan Dorong Pembayaran Daring

Whats New
Bank dan Leasing Sudah Mulai Terima Keringanan Kredit Nasabah

Bank dan Leasing Sudah Mulai Terima Keringanan Kredit Nasabah

Whats New
Demi Penanganan Corona, Sri Mulyani Tunda Pencairan Anggaran Proyek Infrastruktur Kurang Prioritas

Demi Penanganan Corona, Sri Mulyani Tunda Pencairan Anggaran Proyek Infrastruktur Kurang Prioritas

Whats New
Pemilik Djarum Masih Jadi Orang Terkaya RI versi Forbes 2020

Pemilik Djarum Masih Jadi Orang Terkaya RI versi Forbes 2020

Whats New
KPPU: Sanksi Rp 25 Miliar untuk Pelaku Kartel yang Hambat Impor

KPPU: Sanksi Rp 25 Miliar untuk Pelaku Kartel yang Hambat Impor

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X