APBN Defisit 2,2 Persen dari PDB, Ini Perbandingannya dengan Negara Lain

Kompas.com - 07/01/2020, 14:58 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika memaparkan realisasi APBN hingga 30 November 2019 di Jakarta, Selasa (19/12/2019). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika memaparkan realisasi APBN hingga 30 November 2019 di Jakarta, Selasa (19/12/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, hingga akhir 2019 realisasi Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) mencatatkan defisit sebesar Rp 353,3 triliun atau setara dengan 2,2 persen dari Produk Domestik Bruto ( PDB).

Sri Mulyani mengatakan, meski defisit APBN menurutnyia mampu menjaga kondisi perekonomian domestik berada dalam kondisi kondusif.

Hal tersebut tercermin dalam pertumbuhan ekonomi yang menurutnya hingga akhir tahun bakal tumbuh di kisaran 5,05 persen. Meski prediksi tersebut lebih rendah dari target dalam APBN yang sebesar 5,3 persen.

"APBN kita terlihat mampu, paling tidak membuat kondisi ekonomi kita kondusif dan terjaga meski defisit 2019 naik jadi 2,2 persen dari PDB namun kita tetap bisa menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen," ujar Sri Mulyani ketika memberi keterangan di Jakarta, Selasa (7/1/2019).

Baca juga: Hingga Akhir 2019, Defisit APBN Capai Rp 353 Triliun

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut pun membandingkan realisasi kinerja APBN RI dengan beberapa negara berkembang lain. Misalnya saja dengan India, yang realisasi APBN-nya mengalami defisit hingga 7,5 persen hingga akhir tahun dengan kinerja pertumbuhan ekonomi yang hanya tumbuh 4,5 persen.

Kemudian Brazil dengan pertumbuhan ekonomi nyaris nol, realisasi APBN-nya mencatatkan defisit 7,5 persen, Malaysia dengan pertumbuhan ekonomi 4,4 persen mencatatkan defisit APBN sebesar 3 persen, dan Vietnam mencatatkan defisit APBN sebesar 4,4 persen meski pertumbuhan ekonominya jauh di atas RI, yaitu sebesar 7 persen.

Negara lain seperti China dan Amerika Serikat masing-masing mencatatkan defisit APBN hingga akhir tahun 2019 sebesar 5,6 persen dan 6,1 persen.

"Kalau dilihat di sini, kombinasi pemerintah dalam menjaga kebijakan fiskal untuk mampu mendorong ekonomi, karena itu defisit melebar dari yang direncanakan, masih jauh lebih rendah dari peer emerging country yang lain," ujar dia.

Adapun defisit APBN terjadi lantaran realisasi penerimaan negara yang lebih kecil dibandingkan dengan belanja negara. Realisasi penerimaan negara per 31 Desember 2019 tercatat mencapai Rp 1.957,2 triliun dari target Rp 2.165,1 triliun. Adapun realisasi belanja sebesar Rp 2.310,2 triliun dari target Rp 2.461,1 triliun.

Besaran defisit yang setara 2,2 persen terhadap PDB tersebut lebih tinggi dari proyeksi pemerintah yang sebesar 1,84 persen dari PDB atau Rp 296 triliun.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X