Kompas.com - 04/02/2020, 19:02 WIB
Aktivitas pedagang cabai di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (8/1/2020). Harga berbagai jenis cabai di Pasar Induk Kramat Jati melonjak memasuki musim hujan. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGAktivitas pedagang cabai di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (8/1/2020). Harga berbagai jenis cabai di Pasar Induk Kramat Jati melonjak memasuki musim hujan.
|

JAKARTA, KOMPAS.com -  Harga cabai, khususnya jenis rawit, sedang mahal-mahalnya. Harga bahan utama sambal ini meroket hingga menembus Rp 100.000 per kg dalam beberapa minggu terakhir.

Persoalan mahalnya harga cabai ini seolah jadi masalah klasik menahun yang tak kunjung dicarikan solusi. Seolah jadi langganan setiap tahun, harga cabai akan melonjak tajam, terutama saat transisi pergantian musim.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, biang kerok harga cabai naik disebabkan karena musim hujan di akhir tahun yang menyebabkan terjadi penundaan masa tanam cabai.

"Kalau (harga) cabai agak naik sekarang itu karena kemarau yang panjang kemarin dan banjir sehingga Jawa terjadi delay penanaman, karena itu hasilnya juga akan dimulai sampai Februari akhir," ucapnya usai meninjau harga bahan pangan di Pasar Senen, Jakarta Senin (3/2/2020) kemarin.

Selain itu dalam menyelesaikan masalah kenaikan cabai, Syahrul juga akan membenahi distribusi bahan pangan agar daerah di luar Jawa yang panen seperti Sulawesi bisa cepat memasok bahan pangan lewat transportasi udara.

Baca juga: Cabai Rawit di Jakarta Kini Tembus Rp 110.000/Kg, Semahal Daging Sapi

"Ini soalnya ada di hilir, bagaimana transportasi laut kita tingkatkan menjadi transportasi udara, dan kami sudah sepakat untuk membicarakan dengan Kementerian Perhubungan dan lain-lain yang bisa untuk bisa memfasilitasi," ucapnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengungkapkan, meroketnya harga cabai seolah sudah jadi langganan setiap pergantian musim dalam setiap tahunnya.

Selain itu, masalah ini belum juga ditemukan solusi permanennya.

"Sudah jadi masalah klasik. Masalah dari dulu kan cara berbudaya petani, paling penting di situ," kata Hamid.

Menurutnya, permintaan cabai khususnya jenis rawit terus meningkat dari tahun ke tahun seiring tren kuliner berbahan baku cabai rawit yang populer sejak beberapa tahun belakangan.

Di sisi lain, cara budidaya cabai yang dilakukan petani belum banyak berubah, artinya belum banyak petani cabai yang menanam dengan motede intensifikasi.

Baca juga: Harga Cabai Naik, Mentan Salahkan Cuaca

"Sudah begitu iklim sekarang berubah, penyakit banyak, lahan semakin menyempit, tanah menurun kesuburannya, cara menanamnya masih sama. Cara berbudidaya petani belum berubah. Pemerintah juga harus aktif melakukan pembinaan cara bercocok tanam yang baik," ujar Hamid yang juga pengepul cabai ini.

Bikin jantungan Mentan

Masalah harga ini sudah terjadi sejak lama. Di era Menteri Pertanian Amran Sulaiman, polemik harga cabai juga cukup menyita waktu pemerintah.

Saat itu, Amran Sulaiman mengatakan bahwa harga cabai yang melambung tinggi telah membuatnya terganggu.

“Kami merasa terganggu beberapa hari ini harga cabai rawit meningkat sehingga membuat jantung saya melompat,” kata Amran dalam kunjungan kerja di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Rabu (11/1/2017) silam.

Oleh karena itu, Amran berharap para ibu-ibu di setiap rumah tangga bersedia menanam cabai, paling tidak lima pohon saja di pekarangannya untuk mengantisipasi fluktuasi harga cabai yang terjadi setiap tahun.

Baca juga: Januari Sudah Mau Berakhir, Harga Cabai Masih Tetap Mahal...

“Ini cabai saja berteriak 'malas'. Kenapa malas? Ibu-ibu ada 126 juta penduduk Indonesia, kalau ini bergerak tanam cabai, mengurangi gosipnya lima menit, dengan tanam cabai lima menit per pagi, selesai persoalan cabai di Republik ini yang selalu kita bahas,” ujarnya.

Tujuan dari penanaman cabai di pekarangan rumah itu, lanjut Amran, di antaranya agar kebutuhan cabai segar bisa terpenuhi, menekan pengeluaran belanja dan menekan inflasi.

(Sumber: KOMPAS.com/Wayan A. Mahardhika, Kiki Andi Pati | Editor: Sakina Rakhma Diah Setiawan, Caroline Damanik)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.