Ristekdikti: 80 Persen Dana Riset Masih Andalkan APBN

Kompas.com - 04/03/2020, 14:30 WIB
Ilustrasi riset THINKSTOCKS/DEVONYUIlustrasi riset

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti, Ismunandar mengatakan, kontribusi swasta terhadap riset nasional masih kecil.

Hingga saat ini, riset nasional masih mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tak tanggung-tanggung, jumlah pendanaan riset yang ditanggung pemerintah mencapai 80 persen (83,88 persen).

Sisanya ditopang oleh perguruan tinggi sebesar 2,65 persen, perusahaan bisnis 9,15 persen, dan swasta non-profit 4,33 persen.

Baca juga: Mentan Tantang Profesor Pertanian Terapkan Hasil Riset

"Dukungan pendanaan riset masih didominasi negara. Kita lihat di beberapa negara (pendanaan riset) sudah bergeser (dari pemerintah ke non-pemerintah)," kata Ismunandar di Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Ismunandar kemudian merinci proporsi belanja penelitian dan pengembangan (litbang) berdasarkan sektor di beberapa negara dunia. Tercatat, pendanaan pemerintah terhadap penelitian di Korea Selatan hanya sekitar 11,74 persen dan 77,53 persen dilakukan oleh perusahaan bisnis.

Selain itu, pendanaan pemerintah terhadap penelitian di Jepang hanya berkisar 7,90 persen, Amerika Serikat 11,18 persen, China 16,61 persen, Singapura 11,40 persen, Malaysia 19,56 persen, Thailand 9,95 persen, dan Vietnam 42,24 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk meningkatkan peran swasta, Ismunandar berharap kehadiran tax deduction mampu menarik minat swasta. Sebab, pihak yang melakukan riset bakal mendapat potongan pajak hingga 300 persen.

"Sehingga kita berharap nantinya bergeser karena ada pemotongan pajak bagi perusahaan dan badan usaha yang menyelenggarakan riset sampai 300 persen. Tapi swasta ini sebenarnya sudah banyak (meningkat). Porsi sekitar 20 persen (sebelumnya 10 persen)," terang Ismunandar.

Sebelumnya, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati juga mengeluhkan kontribusi pihak swasta untuk mendanai  penelitian dan riset yang tergolong masih kecil. Menurutnya, pendanaan untuk penelitian dan pengembangan riset didominasi oleh pemerintah.

"Kontribusi terhadap penelitian didominasi oleh pemerintah. 66 persen total belanja penelitian dari pemerintah, swasta hanya 10 persen. Ini saja sudah menunjukkan adanya kurangnya partisipasi swasta," kata wanita yang kerap disapa Ani beberapa waktu lalu.

Penyebab swasta enggan mendanai penelitian dan pengembangan riset karena tidak ada insentif. Pun proses pendanaannya terlalu rumit dan berbelit-belit.

"Saya mendengar pihak swasta bilang, 'Prosesnya rese dan terlalu banyak rambu-rambunya', 'Enggak ada insentifnya, Bu'. Makanya ini sejak 10 tahun yang lalu tidak menunjukkan dampak signifikan," ungkap Ani.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Alih Kelola Blok Rokan, 2.691 Karyawan Chevron Setuju Gabung Pertamina

Alih Kelola Blok Rokan, 2.691 Karyawan Chevron Setuju Gabung Pertamina

Whats New
Juli 2021, Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Jadi 71,17 Dollar AS per Barel

Juli 2021, Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Jadi 71,17 Dollar AS per Barel

Whats New
[TREN FILM KOMPASIANA] Romansa Musim Panas 'Words Bubble Up Like Soda Pop' | 'Rurouni Kenshin: The Beginning' Anti Klimaks | Trailer Kedua Sekuel 'Venom' Dirilis

[TREN FILM KOMPASIANA] Romansa Musim Panas "Words Bubble Up Like Soda Pop" | "Rurouni Kenshin: The Beginning" Anti Klimaks | Trailer Kedua Sekuel "Venom" Dirilis

Rilis
BEI: Penggalangan Dana di Pasar Modal Semester II Masih Menjanjikan

BEI: Penggalangan Dana di Pasar Modal Semester II Masih Menjanjikan

Rilis
Erick Thohir Minta Direksi BUMN Perhatikan Karyawannya yang Terkena Covid-19

Erick Thohir Minta Direksi BUMN Perhatikan Karyawannya yang Terkena Covid-19

Rilis
Terus Tumbuh, Transaksi QRIS Meroket 214 Persen

Terus Tumbuh, Transaksi QRIS Meroket 214 Persen

Whats New
Modalku Luncurkan Pinjaman Terproteksi untuk Pendana, Apa Itu?

Modalku Luncurkan Pinjaman Terproteksi untuk Pendana, Apa Itu?

Rilis
Catat, Ini Tiga Perbedaan Skema Subsidi Gaji Tahun 2021 dengan 2020

Catat, Ini Tiga Perbedaan Skema Subsidi Gaji Tahun 2021 dengan 2020

Whats New
Bantuan UKT Rp 2,4 Juta Segera Cair, Begini Syarat dan Cara Daftarnya

Bantuan UKT Rp 2,4 Juta Segera Cair, Begini Syarat dan Cara Daftarnya

Whats New
Anthony Salim Lakukan Aksi Gadai Saham DCII, Ini Penjelasan Manajemen

Anthony Salim Lakukan Aksi Gadai Saham DCII, Ini Penjelasan Manajemen

Whats New
Serikat Karyawan Garuda Indonesia Minta Syarat Tes PCR Bagi Penumpang Diganti Jadi Antigen

Serikat Karyawan Garuda Indonesia Minta Syarat Tes PCR Bagi Penumpang Diganti Jadi Antigen

Whats New
Batas Maksimum Gaji Pegawai DKI Rp 4,5 Juta Untuk Dapat Subsidi Upah

Batas Maksimum Gaji Pegawai DKI Rp 4,5 Juta Untuk Dapat Subsidi Upah

Whats New
Harga Batu Bara Acuan Tembus 130 Dollar AS per Ton, Tertinggi Dalam 1 Dekade

Harga Batu Bara Acuan Tembus 130 Dollar AS per Ton, Tertinggi Dalam 1 Dekade

Whats New
Lawan Pandemi, Kadin Gandeng PMI Sediakan Sarana dan Prasarana Plasma Konvalesen

Lawan Pandemi, Kadin Gandeng PMI Sediakan Sarana dan Prasarana Plasma Konvalesen

Whats New
 Kuartal II 2021, Bank Permata Catatkan Laba Bersih Rp 639 Miliar

Kuartal II 2021, Bank Permata Catatkan Laba Bersih Rp 639 Miliar

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X