Redam Dampak Corona, Sri Mulyani Buka Peluang Tunda Pembayaran PPh 21

Kompas.com - 04/03/2020, 13:16 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Kamis (30/1/2020). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Kamis (30/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan berbagai insentif yang bakal diguyurkan pemerintah untuk menangkal imbas virus corona terhadap perekonomian.

Beberapa skenario yang menurut dia memungkinkan di antaranya adalah penundaan Pajak Penghasilan Pasal 21 ( PPh Pasal 21) atau pajak atas penghasilan berupa gaji/upah.

Sri Mulyani mengatakan, skema tersebut sebelumnya pernah dilakukan ketika krisis keuangan global 2008-2009 lalu.

Baca juga: Redam Dampak Corona, Sri Mulyani Longgarkan Izin Impor Bahan Baku

"Kita bisa juga masuk melalui perusahaan dengan penundakan kewajiban perpajakan Jadi pilihannya banyak, bisa kita lakukan seperti dulu di 2008 dan 2009 PPh Pasal 21 ditunda, bisa juga kita berikan untuk daerah itu pajak hotel dan restoran ditanggung oleh pemerintah atau nanti kita bisa lihat opsinya," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Sebelumnya, pemertintah juga telah mengungkapkan beberapa stimulus untuk mencegah dampak corona seperti kartu sembako, diskon liburan dan insentif untuk maskapai dan agen perjalanan.

Untuk bauran insentif tersebut, negara menggelontorkan dana dari APBN sebesar Rp 10,3 triliun.

"Dari sisi fiskal kita bisa jauh lebih fleksibel. Kita bisa langsung memberikan ke konsumen dengan kartu sembako, diskon untuk trip dan ke konsumen ke jalur lain yang kita pelajari mana yang lebih efektif," ujar dia.

Baca juga: Soal Anggaran Penanganan Pasien Virus Corona, Sri Mulyani Tunggu Kemenkes

Adapun insentif fiskal tambahan, menurut Sri Mulyani diperlukan untuk mennjaga kinerja di sektor produksi yang mulai terdampak.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan instrumen fiskal memainkan peran penting dalam mencegah maupun memitigasi dampak negatif virus corona dengan semaksimal mungkin.

Saat ini, pihaknya tengah mendengarkan masukan dari dunia usaha mengenai berbagai insentif fiskal yang sekiranya dibutuhkan untuk mendorong kinerja produksi. Ditambah lagi tiga bulan ke depan akan dihadapkan pada momentum bulan puasa dan lebaran.

"Sehingga kita dapat melihat betul kira-kira akan seperti apa situasi dalam dua tiga bulan ke depan, jangan lupa dua tiga bulan ke depan jelang puasa dan lebaran. Jadi kita memiliki fokus baik mencegah dampak negatif corona dan juga persiapan dalam rangka lebaran itu supaya seminimal mungkin dan kita akan gunakan instrumen semaksimal mungkin," ujar dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X