Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Melihat Dampak Konflik Israel-Iran di Pasar Keuangan

Kompas.com - 22/04/2024, 12:25 WIB
Kiki Safitri,
Aprillia Ika

Tim Redaksi


JAKARTA, KOMPAS.com - Syailendra Investment Research Team mencatat bahwa dampak serangan balik Israel ke Iran pada Jumat (19/4/2024) cenderung terbatas, usai tembakan Iran ke Israel (13/4/2024).

“Hingga kini, belum ada serangan lanjutan yang mengindikasikan bahwa kedua negara berupaya menekan ketegangan konflik,” mengutip riset Syailendra, Senin (22/4/2024).

Dia mengungkapkan, kebijakan DPR AS yang meloloskan RUU bantuan dana militer senilai 95 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 1.539 triliun untuk Israel, Ukraina, dan Taiwan.

Namun, para sekutu Israel berusaha menahan Israel agar tidak terjadi eskalasi. Investor juga mengamati rilis data inflasi AS per Maret yang masih melebihi konsensus.

Baca juga: Dampak Perang Gaza terhadap Ketahanan Pangan dan Energi Nasional

Ekspektasi Fed cut rate berpotensi mundur ke September (sebelumnya Juni) dan cut rate juga jadi lebih kecil. Fed cut rate diestimasikan mundur ke September (estimasi sebelumnya Juni).

“Selain, jumlah cut rate diperkirakan turun signifikan dari 7x menjadi hanya 2x sepanjang 2024,” tambah riset tersebut.

Syailendra Investment Research Team menilai, tensi konflik Israel-Iran dapat berpotensi tidak terlalu meluas. Israel juga tak melakukan eskalasi militer saat Gulf War 1991 saat Iran melakukan serangan.

Data historis menunjukkan perang di Timur Tengah tak pernah berlangsung lebih dari 1 tahun. Tekanan ke pasar saham dan obligasi maupun kenaikan harga minyak bumi bersifat temporer.

“Koreksi IHSG saat ini lebih dikarenakan melemahnya rupiah terhadap dollar AS hingga ke Rp 16.200 per dollar AS, dan bukan karena perang). Penguatan dollar AS didorong oleh ekonomi AS yang lebih baik daripada estimasi,” tegas riset tersebut.

Baca juga: Pemerintah Perlu Tinjau Ulang Anggaran Belanja di Tengah Konflik Iran-Israel

Harga minyak

Syailendra mengungkapkan, komoditas minyak cukup sensitif tiap kali terjadi perang dan cenderung naik tiap terjadi perang.

Kenaikan terbesar terjadi saat Persian Gulf War sekira 82,9 persen dalam waktu singkat hanya 2,24 bulan. Makin tinggi lonjakan harga minyak, maka tekanan ke pasar saham makin besar.

Pada konflik Israel vs Iran, kenaikan Brent relatif minim yakni ke 87 per barrel (0,26 persen MoM) dan WTI ke level 82 dollar AS per barrel (1,19 persen MoM) sehingga tekanan ke IHSG diperkirakan juga terbatas.

Indeks Dollar AS

Transmisi risiko perang terhadap pergerakan indeks dollar AS (DXY) sangat minim. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi AS lebih baik daripada perkiraan investor mencakup sektor employment, retail consumption, dan lainnya.

Di sisi lain, ada perbaikan economic growth outlook AS dari 2,1 persen menjadi 2,7 persen pada 2024. Selain itu, ekspektasi Fed cut rate yang dimulai 2024 juga mempengaruhi walaupun skala cut rate lebih kecil.

Apresiasi terhadap dollar AS membuat DXY menguat dan menekan rupiah hingga ke level Rp 16.250 per dollar AS pada akhir pekan lalu

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

IHSG Menghijau, Rupiah Melemah ke Level Rp 16.026

IHSG Menghijau, Rupiah Melemah ke Level Rp 16.026

Whats New
Produsen Elektronik Sebut Aturan Permendag 8/2024 Bisa Bikin RI Kebanjiran Produk Impor

Produsen Elektronik Sebut Aturan Permendag 8/2024 Bisa Bikin RI Kebanjiran Produk Impor

Whats New
Ajinomoto Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1, Ini Syaratnya

Ajinomoto Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1, Ini Syaratnya

Work Smart
Harga Bahan Pokok Senin 27 Mei 2024, Harga Ikan Tongkol dan Ikan Kembung Naik

Harga Bahan Pokok Senin 27 Mei 2024, Harga Ikan Tongkol dan Ikan Kembung Naik

Whats New
Transisi Jadi BUS, BTN Syariah Perkuat Fondasi Bisnis

Transisi Jadi BUS, BTN Syariah Perkuat Fondasi Bisnis

Whats New
Tak Cukup dengan Penurunan Kemiskinan Ekstrem

Tak Cukup dengan Penurunan Kemiskinan Ekstrem

Whats New
IHSG Diperkirakan Sentuh 'All Time High' Hari Ini, Berikut Rekomendasi Sahamnya

IHSG Diperkirakan Sentuh "All Time High" Hari Ini, Berikut Rekomendasi Sahamnya

Earn Smart
Kemenhub Bahas Tarif LRT Jabodebek Pekan Ini, Promo Bakal Berlanjut?

Kemenhub Bahas Tarif LRT Jabodebek Pekan Ini, Promo Bakal Berlanjut?

Whats New
Blibli Hadirkan Promo Kosmetik dan 'Skincare', Ada 'Cashback' 100 Persen

Blibli Hadirkan Promo Kosmetik dan "Skincare", Ada "Cashback" 100 Persen

Spend Smart
[POPULER MONEY] Cara Cek Sertifikat Tanah secara Online | Penjelasan Super Air Jet soal Pesawat Keluar Landasan

[POPULER MONEY] Cara Cek Sertifikat Tanah secara Online | Penjelasan Super Air Jet soal Pesawat Keluar Landasan

Whats New
Suku Bunga Acuan BI Diprediksi Tak Lebih dari 6,25 Persen hingga Akhir 2024

Suku Bunga Acuan BI Diprediksi Tak Lebih dari 6,25 Persen hingga Akhir 2024

Whats New
Pasar Obligasi Melemah pada April 2024, Bagaimana Potensinya ke Depan?

Pasar Obligasi Melemah pada April 2024, Bagaimana Potensinya ke Depan?

Earn Smart
Penjelasan Lengkap BPJS Kesehatan soal Ikang Fawzi Antre Layanan Berjam-jam

Penjelasan Lengkap BPJS Kesehatan soal Ikang Fawzi Antre Layanan Berjam-jam

Whats New
Naik, Ini Kupon ST009, ST010, ST011, dan SWR004 Periode Mei-Agustus

Naik, Ini Kupon ST009, ST010, ST011, dan SWR004 Periode Mei-Agustus

Whats New
Bidik Pasar RI, Produsen Motor Listrik Sunra Hadirkan Produk Harga Ekonomis

Bidik Pasar RI, Produsen Motor Listrik Sunra Hadirkan Produk Harga Ekonomis

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com