Selagi Murah, Arab Saudi Borong Saham Facebook Hingga Boeing

Kompas.com - 19/05/2020, 11:32 WIB
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (kiri) berbicara dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz di Istana Diriya di Riyadh selama KTT Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Minggu (9/12/2018). (AFP/SPA/Bandar Al-Jaloud) Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (kiri) berbicara dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz di Istana Diriya di Riyadh selama KTT Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Minggu (9/12/2018). (AFP/SPA/Bandar Al-Jaloud)

NEW YORK, KOMPAS.com - Perusahaan investasi milik Kerajaan Arab Saudi, Public Investment Fund (PIF), memborong saham di perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat (AS) seperti Disney, Boeing, Facebook, dan Citigroup.

Dilansir dari Business Insider, Selasa (19/5/2020), PIF meningkatkan investasi pada saham-saham minoritas di berbagai perusahaan raksasa AS, dari 2,2 miliar dollar AS di akhir Desember 2019 menjadi 9,8 miliar dollar AS di akhir Maret 2020.

Secara bertahap, Arab Saudi menganggarkan dana 300 miliar dollar AS untuk mendiversifikasi ekonomi mereka agar tak lagi bergantung pada minyak mentah.

Saat harga saham perusahaan-perusahaan di AS tengah anjlok imbas pandemi virus corona ( Covid-19), PIF justru semakin agresif melakukan belanja saham di bursa Wall Street.

Baca juga: Ekonomi Terpukul Virus Corona, Arab Saudi Naikkan Pajak

Penambahan kepemilikan saham baru PIF termasuk di antaranya 714 juta dollar AS di Boeing, 522 juta dollar AS di Citigroup dan Facebook, dan 514 juta dollar AS di Marriot. Selain itu, PIF juga membeli saham dengan valuasi antara 400-500 juta dollar AS di Disney, Cisco, dan Suncor Energy.

Strategi PIF ada dua. Yakni membangun portofolio investasi internasional dan berinvestasi secara lokal dalam proyek-proyek yang akan membantu mengurangi ketergantungan Arab Saudi pada minyak.

“PIF adalah investor yang sabar dengan cakrawala jangka panjang. Dengan demikian, kami secara aktif mencari peluang strategis baik di Arab Saudi dan global yang memiliki potensi kuat untuk menghasilkan pengembalian jangka panjang yang signifikan sambil lebih jauh memberi manfaat bagi masyarakat Arab Saudi dan mendorong pertumbuhan ekonomi negara itu," demikian pernyataan PIF sebagaimana dikutip dari Reuters.

Ketergantungan minyak

Sebagain informasi, sejak Mohammed bin Salman ( MBS) ditunjuk sebagai Putra Mahkota Arab Saudi pada 2016 lalu, reformasi besar-besaran mulai dilakukan.

Ia mencanangkan konsep bernama Visi Saudi 2030 untuk mengurangi ketergantungan negara kepada minyak dan diversifikasi ekonomi.

Baca juga: Resmi, Arab Saudi Terbitkan Surat Utang Tenor hingga 40 Tahun

Pemerintah Saudi mulai sadar bahwa cadangan minyak yang mereka miliki bisa habis suatu saat nanti. Untuk mencapai visi tersebut, MBS melakukan sejumlah reformasi di berbagai bidang. Salah satu yang terbaru, Saudi menerbitkan visa wisata untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Dalam data statistik yang dikeluarkan oleh BP Statistical Review of World Energy 2019 disebutkan bahwa cadangan minyak Arab Saudi di tahun 2018 mencapai 297,7 juta barrel. Dengan jumlah itu, Saudi menjadi negara kedua dengan cadangan minyak terbesar di dunia.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X