8 Tahun Merugi, Krakatau Steel Akhirnya Cetak Laba Rp 1,07 Triliun

Kompas.com - 29/05/2020, 11:24 WIB
Logo perusahaan Krakatau Steel Krakatau SteelLogo perusahaan Krakatau Steel

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mencatatkan laba bersih sebesar 74,1 juta dollar AS atau setara Rp 1,07 Triliun pada kuartal I 2020. Capaian ini adalah yang pertama kali sejak 8 tahun terakhir.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, perbaikan kinerja perseroannya ini disebabkan karena penurunan beban pokok pendapatan sebesar 39,8 persen dan penurunan biaya administrasi dan umum sebesar 41,5 persen.

“Beberapa upaya yang telah dilakukan perseroan untuk memperbaiki kinerja antara lain melalui program restrukturisasi dan transformasi. Salah satu hasil positif yang dicapai perseroan adalah penurunan biaya operasi (operating expenses) induk turun 31 persen menjadi 46,8 juta dollar AS dibandingkan periode yang sama di tahun 2019,” ujar Silmy dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/5/2020).

Baca juga: Keluhkan Serbuan Baja China, Bos Krakatau Steel Serukan Petisi Anti-dumping

Silmy menjelaskan, kinerja positif perusahaannya di kuartal I 2020 ini, tidak lepas dari keberhasilan dalam melakukan efisiensi.

Di awal 2020, perseroannya mampu meningkatkan produktivitas karyawan melalui program optimalisasi tenaga kerja.

Di Januari 2020, optimalisasi kerja meningkat 43 persen jika dibanding pada saat tahun berjalan di 2019.

Selain itu, beban penggunaan energi, consumable, utility, biaya tetap, dan suku cadang mengalami penurunan, sehingga total penurunan biaya di Januari 2020 mencapai 28 persen, jika dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga: Bisnis Krakatau Steel, BUMN Baja tapi Jadi Developer Rumah Tipe 52

Sementara untuk cash to cash cycle juga mengalami percepatan siklus 40 hari atau sekitar 41 persen pada Desember 2019 dibanding dengan periode di sepanjang 2018.

“Atas upaya-upaya efisiensi, Krakatau Steel telah berhasil melakukan penghematan biaya sebesar 130 juta dollar AS pada kuartal I 2020,” kata Silmy.

Kendati begitu, lanjut Silmy, kondisi di kuartal II 2020 diperkirakan berbeda karena kondisi pasar baja yang melemah sampai sekitar 50 persen akibat dari kondisi ekonomi Indonesia yang sedang mengalami tekanan akibat pandemi Covid-19.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X