Keluhkan Serbuan Baja China, Bos Krakatau Steel Serukan Petisi Anti-dumping

Kompas.com - 17/02/2020, 20:23 WIB
Direktur Utama PT Krakatau Steel, Silmy Karim di Jakarta, Minggu (24/3/2019). KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMADirektur Utama PT Krakatau Steel, Silmy Karim di Jakarta, Minggu (24/3/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menyatakan telah menyampaikan petisi anti dumping HRC Paduan (yang merupakan like product/produk sejenis) dari China kepada Komite Anti Dumping Indonesia (KADI).

Chairman The Indonesian Iron and Steel Industry Association atau Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) Silmy Karim mengatakan berdasarkan informasi yang diketahui, KADI telah melakukan pra-notifikasi kepada pemerintah China.

Silmy yang juga merupakan Direktur Utama Krakatau Steel menyampaikan, pembuatan petisi tersebut merupakan salah satu upaya pengendalian importasi besi dan baja yang masuk ke Indonesia, khususnya dari China yang dilakukan dengan cara unfair trade.

“Saat ini banyak negara eksportir melakukan ekspor produk baja dengan cara yang unfair, seperti halnya dumping," jelas Silmy dalam keterangannya, Senin (17/2/2020).

Baca juga: Bisnis Krakatau Steel, BUMN Baja tapi Jadi Developer Rumah Tipe 52

Padahal seharusnya, sambung dia, baja paduan sesungguhnya/special steel memiliki harga jual yang tinggi karena hanya digunakan oleh industri-industri tertentu.

"Sedangkan baja paduan dari China sebagian besar memiliki spesifikasi yang sama dengan produk HRC karbon biasa yang diproduksi oleh produsen baja dalam negeri dan saat ini telah mengalami oversupply," tambahnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah importasi baja hot rolled coil/plate (HRC/P) paduan atau juga disebut baja gulungan atau lembaran canai panas paduan mencapai 675 ribu ton pada 2019.

Volume impor produk HRC/P paduan tersebut cukup tinggi, mengingat 65 persen di antaranya dapat diproduksi oleh produsen baja nasional.

Dalam rangka mengamankan pasar baja nasional dari praktek pengalihan HS code (circumvention practice) baja impor dan mengamankan potensi bea masuk yang seharusnya diperoleh pemerintah dari praktek tersebut.

Baca juga: Derita Krakatau Steel: Rugi Menahun, Utang Menggunung

Silmy juga mengatakan, pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) penting bagi industri baja nasional, mengingat tarif Bea Masuk Most Favoured Nation (MFN) untuk produk-produk baja sebagian besar sudah diturunkan (bahkan sampai 0 persen).

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X