Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pertumbuhan Ekonomi Masa Pandemi 8 Negara, Indonesia Paling Tinggi

Kompas.com - 09/06/2020, 11:35 WIB
Mutia Fauzia,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Perekonomian negara-negara di dunia saat ini tengah berada dalam tekanan akibat pandemi virus corona (Covid-19). Bahkan menurut Bank Dunia, perekonomian dunia sepanjang tahun ini bakal mengalami resesi terburuk sejak perang dunia.

Bank Dunia memrediksi, hingga akhir tahun nanti Produk Domestik Bruto (PDB) global akan mengalami kontraksi atau tumbuh negatif 5,2 persen tahun ini.

Aktivitas perekonomian negara maju diprediksi bakal tertekan hingga 7 persen seiring dengan pukulan yang terjadi baik dari sisi permintaah, penawaran, perdagangan hingga pasar keuangan.

Baca juga: BPS: Ekonomi RI Tumbuh 2,97 Persen di Kuartal I

Sementara, perekonomian negara bekembang bakal terkoreksi 2,5 persen. Pertumbuhan negatif bagi pasar berkembang untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.

Pukulan pandemi virus corona terhadap perekonomian negara-negara di dunia telah dirasakan sejak kuartal I tahun ini. Realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I di banyak negara, baik pasar berkembang hingga maju mencatatkan rekor penurunan baru dalam beberapa tahun terakhir.

Meskipun demikian, Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal bulan lalu menyatakan, perekonomian Indonesia masih bisa tumbuh sebesar 2,97 persen. Angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan kuartal IV-2019 yang sebesar 4,97 persen, dan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun lalu yang sebesar 5,07 persen.

Namun dibandingkan dengan negara lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi. Malaysia misalnya, pada kuartal I 2020 hanya bisa tumbuh 0,7 persen pada kuartal I tahun ini. Jika dibandingkan kuartal IV-2019, realisasi tersebut jauh lebih rendah.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Jepang Minus 2,2 Persen pada Kuartal I 2020

Perekonomian Malaysia pada kuartal I tahun ini mencatatkan kinerja terburuk sejak krisis keuangan global pada tahun 2009 lalu.

Adapun China, yang menerapkan kebijakan lockdown atau isolasi total sejak 23 Januari 2020 hingga 8 April 2020 lalu mencatatkan pertumbuhan ekonomi -6,8 persen. Kontraksi pertumbuhan ekonomi tersebut terjadi untuk pertama kalinya di China sejak periode Revolusi Kultural pada 1976, mengonfirmasi dampak pagebluk virus corona terhadap perekonomian negara tersebut.

Ekonomi Thailand pun negatif sebesar 1,8 persen pada periode Januari hingga Maret 2020.

Kontraksi tersebut untuk pertama kalinya terjadi sejak tahun 2014. Melambatnya ekspor serta investasi swasta menjadi penyebab utama kinerja perekonomian yang tertekan. Konsumsi rumah tangga pun tumbuh melambat.

Berikut daftar realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 beberapa negara di dunia:

1. Indonesia 2,97 persen

2. Malaysia 0,7 persen

3. Thailand -1,8 persen

Halaman Berikutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Tren Pelemahan Rupiah, Bos BCA Sebut Tak Ada Aksi Jual Beli Dollar AS yang Mencolok

Tren Pelemahan Rupiah, Bos BCA Sebut Tak Ada Aksi Jual Beli Dollar AS yang Mencolok

Whats New
Panen Jagung di Gorontalo Meningkat, Jokowi Minta Bulog Lakukan Penyerapan

Panen Jagung di Gorontalo Meningkat, Jokowi Minta Bulog Lakukan Penyerapan

Whats New
Ramai Beli Sepatu Bola Rp 10 Juta Kena Bea Masuk Rp 31 Juta, Bea Cukai Buka Suara

Ramai Beli Sepatu Bola Rp 10 Juta Kena Bea Masuk Rp 31 Juta, Bea Cukai Buka Suara

Whats New
Menko Airlangga: Putusan Sengketa Sudah Berjalan Baik, Kita Tidak Perlu Bicara Pilpres Lagi...

Menko Airlangga: Putusan Sengketa Sudah Berjalan Baik, Kita Tidak Perlu Bicara Pilpres Lagi...

Whats New
Paylater BCA Punya 89.000 Nasabah sampai Kuartal I-2024

Paylater BCA Punya 89.000 Nasabah sampai Kuartal I-2024

Whats New
Hadapi Tantangan Bisnis, Bank DKI Terus Kembangkan Produk Digital

Hadapi Tantangan Bisnis, Bank DKI Terus Kembangkan Produk Digital

Whats New
Kemendag Mulai Lakukan Evaluasi Rencana Kenaikan Harga MinyaKita

Kemendag Mulai Lakukan Evaluasi Rencana Kenaikan Harga MinyaKita

Whats New
Simak Daftar 10 'Smart City' Teratas di Dunia

Simak Daftar 10 "Smart City" Teratas di Dunia

Whats New
Kuartal I-2024, Laba Bersih BCA Naik 11,7 Persen Jadi Rp 12,9 Triliun

Kuartal I-2024, Laba Bersih BCA Naik 11,7 Persen Jadi Rp 12,9 Triliun

Whats New
Bantah Pesawatnya Jatuh di NTT, Wings Air: Kami Sedang Upayakan Langkah Hukum...

Bantah Pesawatnya Jatuh di NTT, Wings Air: Kami Sedang Upayakan Langkah Hukum...

Whats New
MK Tolak Gugatan Sengketa Pilpres, Rupiah Menguat dan IHSG Kikis Pelemahan

MK Tolak Gugatan Sengketa Pilpres, Rupiah Menguat dan IHSG Kikis Pelemahan

Whats New
Laba Bersih Emiten Toto Sugiri Melonjak 40 Persen pada 2023, Jadi Rp 514,2 Miliar

Laba Bersih Emiten Toto Sugiri Melonjak 40 Persen pada 2023, Jadi Rp 514,2 Miliar

Whats New
Ekonom: Pemilu Berdampak pada Stabilitas Ekonomi dan Sektor Keuangan di RI

Ekonom: Pemilu Berdampak pada Stabilitas Ekonomi dan Sektor Keuangan di RI

Whats New
Pertumbuhan Kredit dan Pendanaan Perbankan 2024 Diproyeksi Masih Baik di Tengah Ketidakpastian Global

Pertumbuhan Kredit dan Pendanaan Perbankan 2024 Diproyeksi Masih Baik di Tengah Ketidakpastian Global

Whats New
Konsultasi ESG Makin Dibutuhkan, Sucofindo Tingkatkan Layanan LVV

Konsultasi ESG Makin Dibutuhkan, Sucofindo Tingkatkan Layanan LVV

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com