Curhat Reza Rahadian soal Hak-hak Pekerja Film yang Tak Terpenuhi

Kompas.com - 07/07/2020, 19:07 WIB
Aktor Reza Rahadian saat menghadiri acara peresmian Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Perfilman di Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Selasa (7/7/2020). KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULYAktor Reza Rahadian saat menghadiri acara peresmian Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Perfilman di Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Selasa (7/7/2020).

"Pemain di kontrak dan dia sakit di lokasi syuting atau terjadi sesuatu, kalau sekarang saya bisa gebrak meja produser bilang 'yah lu tanggung nih biaya gue sakit'. Tapi dulu itu angkanya Rp50.000. Jadi kalau dia sakit yah produser akan bayar segitu, dengan ekspetasi bahwa 'kamu kan harus punya asuransi (sendiri) dong'," kisahnya.

Reza mengatakan, kondisi minimnya tanggung jawab perusahaan pada pemain film tersebut, sangat umum terjadi pada para pemain yang baru memulai karir di industri perfilman.

"Apalagi pemain-pemain yang sekarang baru memulai kariernya sebagai seorang aktor, perlindungan itu rasanya hampir nihil," tegasnya.

Itu baru soal proyek film, belum lagi realitas di lokasi syuting sinetron kejar tayang atau striping. Jam kerjanya jauh melebihi syuting sebuah film, membuat kru dan pemain harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk bisa merampungkan sebuah episode yang siap tayang.

Beda dari Thailand dan Jerman

Realitas jam kerja yang seperti tak kenal batas ini, sangat jauh bila dibandingkan degan sistem kerja syuting di Thailand dan Jerman. Reza menceritakan pengalamannya syuting di kedua negara tersebut, maksimal jam kerja adalah 12 jam, selebihnya kru dan pemain memiliki hak untuk pulang beristirahat.

"Mereka enggak akan dituntut, enggak akan dapat sanksi hukum karena negaranya mengatur untuk bisa kerja seperti itu," tukasnya.

Baca juga: Pemerintah Klaim TKA China yang Masuk Akan Bantu Pekerja Lokal

Reza mengaku, sudah mencicipi asam manis industri kreatif mulai dari fase film televisi atau FTV, sinteron dan striping, hingga film layar lebar. Oleh sebab itu, ia sangat paham realitas di lapangan yang seringkali merugikan para pekerja.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia menekankan, peran negara sangat penting dalam hal ini, untuk masuk membangun regulasi yang bisa menciptakan kesehatan di industri perfilman. Perlu adanya sebuah aturan yang benar-benar bisa ditaati oleh para PH dan stasiun televisi berkaitan dengan jaminan perlindungan dan jam kerja para kru atau pemain.

"Kalau bicara hak pekerja film, ada banyak lagi hak yang belum dipikirkan secara konkret, dan belum ada dalam sebuah kontrak kerja, baik bagi pemain maupun kru. Itu sesuatu yang cukup penting untuk diperhatikan," kata dia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X