Ini Hambatan Pengembangan Pembangkit Listrik EBT di RI

Kompas.com - 24/09/2020, 14:11 WIB
Menteri ESDM RI Arifin Tasrif saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Rabu (15/7/2020). Dok. Humas EBTKEMenteri ESDM RI Arifin Tasrif saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Rabu (15/7/2020).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah tengah berupaya meningkatkan porsi bauran energi baru terbarukan (EBT) terhadap energi nasional. Rencananya, pemerintah akan menambahkan 16,7 Giga Watt (GW) dalam kurun waktu 10 tahun sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Perusahaan Listrik Negara 2019 - 2028.

Namun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengakui, masih terdapat beberapa hambatan untuk merealisasikan hal tersebut.

“Ada beberapa tantangan pengembangan pembangkit energi baru terbarukan ini,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (24/9/2020).

Baca juga: Baleg DPR: Pembahasan RUU Cipta Kerja Sudah 95 Persen

Tantangan pertama adalah keekonomian EBT yang dinilai masih lebih mahal dibandingkan dengan harga pembangkit berbahan bakar fosil.

"Harga EBT masih relatif lebih mahal dibandingkan pembangkit konvensional," kata dia.

Kedua, sifat pembangkit yang selang seling atau intermiten, seperti pembangkit listrik tenaga (PLT) Surya dan PLT Bayu memerlukan kesiapan sistem untuk menjaga kontinuitas pasokan tenaga listrik.

Sebaliknya, pembangkit EBT dengan ongkos rendah dan faktor kapasitasnya bagus, seperti PLT Air, PLT Minihidro, dan PLT Panas Bumi, umumnya terletak di daerah konservasi yang jauh dari pusat beban, sehingga membutuhkan waktu relatif lama dalam pembangunan, mulai dari perizinan, kendala geografis hingga keadaan kahar.

Baca juga: Bos AirAsia: Semua Tujuan Penerbangan Masih Beroperasi, tetapi...

Terakhir, Arifin menyampaikan, untuk bioenergi, pengembangan pembangkit biomassa maupun biogas memerlukan jaminan pasokan feedstock selama masa operasinya.

Ia meyakini Indonesia sebagai negara tropis sangat cocok dan punya potensi besar dalam mengembangkan EBT, terutama dari pemanfaatan energi matahari.

Pasalnya, penyinaran energi surya tersebut di Indonesia lebih panjang dibandingkan negara lainnya.

"Sangat bisa (mengandalkan energi surya), karena negara tropis. Penyinaran matahari lebih panjang dari negara lain," ucapnya.

Baca juga: Erick Thohir: Pemeriksaan Spesimen Covid-19 Indonesia Lampaui Standard WHO



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X