Saat Sri Mulyani Mengaku Pernah Dapat Rapor Merah Kala Sekolah...

Kompas.com - 27/10/2020, 07:10 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Kamis (30/1/2020). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Kamis (30/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beberapa waktu lalu baru saja mendapatkan penghargaan menteri keuangan terbaik di kawasan Asia Pasifik dari majalah Global Markets.

Penghargaan tersebut dia dapatkan dua kali, yakni tahun 2018 dan 2020.

Selain itu, Sri Mulyani juga beberapa kali menduduki posisi penting, tak hanya di Indonesia namun juga lembaga internasional. Sebelum kembali menduduki kursi menteri keuangan, Sri Mulyani sempat menjadi seorang direktur pelaksana di Bank Dunia.

Baca juga: Sri Mulyani Bikin Aturan Rapat Kemenkeu di Luar Jam Sekolah, Mengapa?

Namun, siapa sangka dia pernah mendapatkan nilai merah atau di bawah rata-rata kala sekolah dulu.

"Saya pernah mendapatkan nilai merah. Dan di keluarga saya, kakak saya juara kelas, adik saya juara kelas. Terus tiba-tiba saya dapat nilai merah," ujarnya dalam acara cerita di Kemenkeu Mengajar secara virtual, Jakarta, Senin (26/10/2020).

Sri Mulyani mengaku dilahirkan dalam keluarga dengan kelebihan yang mungkin tidak dinikmati keluarga lain. Yakni, latar belakang orang tuanya yang kental dengan pendidikan.

Kedua orang tuanya yang berprofesi dosen itu memiliki pola didik yang berbeda dengan orang tua lain.

Kala dirinya mendapat nilai merah, justru tetap suportif dan tidak memarahi dirinya karena telah mendapatkan nilai yang jeblok.

"Oh ini bagus rapot kamu seperti ada lipstiknya. Jadi saya punya nilai merah bukan dimarah-marahi, kenapa kamu punya nilai merah. Apalagi gurunya adalah ternyata temannya ibu saya," ujar Sri Mulyani.

Baca juga: Cerita Sri Mulyani soal Reformasi Kemenkeu: Dulu Urus Pencairan Anggaran Perlu Bawa Map Isi Uang Sogokan...

"Jadi mereka (orang tuanya) tidak pernah menganggap itu suatu skandal. Jadi orang tua saya tahu bagaimana meningkatkan rasa percaya diri anaknya. Sehingga mereka tidak easily down," kata dia.

Belajar dari orang tuanya, Sri Mulyani menilai menjadi orang tua bisa diumpamakan seperti menjadi pemilik kebun atau garderner. Karena setiap anak memiliki keunikannya tersendiri, mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan cara mereka sendiri. Dan lingkungan membentuk anak-anak untuk bisa menjadi apapun yang mereka inginkan.

"Parenting seperti garderner. Jangan sampai anak anda sebetulnya cantik seperti bunga anggrek, tapi dipaksa untuk menjadi bunga mawar. Saya menjadi orang tua, saya tidak mengajar-ajari anak saya jadi apa. Kalau mereka tanya, bisa tanya saya atau ke orang lain juga," kata Sri Mulyani menutup ceritanya.

Baca juga: Sri Mulyani Mau Gratiskan Sertifikasi Halal untuk UMKM



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gaji Rp 5 Juta, Sebaiknya Ngontrak atau Cicil Rumah?

Gaji Rp 5 Juta, Sebaiknya Ngontrak atau Cicil Rumah?

Spend Smart
Wika dan CNI Bangun Pabrik Nikel di Kolaka

Wika dan CNI Bangun Pabrik Nikel di Kolaka

Whats New
Pengusaha Sebut Hanya 3 Persen Pekerja yang Bekerja di Perusahaan Besar

Pengusaha Sebut Hanya 3 Persen Pekerja yang Bekerja di Perusahaan Besar

Whats New
Nadine Chandrawinata: Selain Plastik, Sampah Puntung Rokok Juga Banyak Ditemukan di Laut

Nadine Chandrawinata: Selain Plastik, Sampah Puntung Rokok Juga Banyak Ditemukan di Laut

Whats New
Pengusaha Ingin Buruh Tak Sekadar Demo, tapi Berdialog untuk Menyelesaikan Masalah

Pengusaha Ingin Buruh Tak Sekadar Demo, tapi Berdialog untuk Menyelesaikan Masalah

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Menyiapkan Guru Masa Depan | Siap-siap 5G | 7 Kesalahan dalam Bisnis

[POPULER DI KOMPASIANA] Menyiapkan Guru Masa Depan | Siap-siap 5G | 7 Kesalahan dalam Bisnis

Rilis
Luhut: Saya Enggak Mau Lama-lama, Kerjaan Saya Banyak

Luhut: Saya Enggak Mau Lama-lama, Kerjaan Saya Banyak

Whats New
Menaker Akui Iklim Terciptanya Lapangan Kerja Baru Masih Belum Bersahabat

Menaker Akui Iklim Terciptanya Lapangan Kerja Baru Masih Belum Bersahabat

Whats New
779 Warga Kota Serang Dapat Kompensasi Tumpahan Minyak dari Pertamina

779 Warga Kota Serang Dapat Kompensasi Tumpahan Minyak dari Pertamina

Whats New
7 Posisi Menteri yang Pernah Dijabat Luhut, Apa Saja?

7 Posisi Menteri yang Pernah Dijabat Luhut, Apa Saja?

Whats New
Menaker Sebut Nilai Upah Minimum RI Tak Sepadan dengan Produktivitas Pekerja yang Rendah

Menaker Sebut Nilai Upah Minimum RI Tak Sepadan dengan Produktivitas Pekerja yang Rendah

Whats New
Ini 7 Kiat Sukses Calon Pemimpin ala Gubernur BI

Ini 7 Kiat Sukses Calon Pemimpin ala Gubernur BI

Rilis
KKP Bantu Permodalan Pembudi Daya Rumput Laut di Sulsel

KKP Bantu Permodalan Pembudi Daya Rumput Laut di Sulsel

Whats New
Kemenkeu Beri Pinjaman Rp 650 Miliar ke Perumnas untuk Penyediaan Satu Juta Rumah

Kemenkeu Beri Pinjaman Rp 650 Miliar ke Perumnas untuk Penyediaan Satu Juta Rumah

Whats New
Pulihkan Ekonomi, Mendag Dorong Penguatan Kerja Sama Indonesia-Malaysia-Thailand

Pulihkan Ekonomi, Mendag Dorong Penguatan Kerja Sama Indonesia-Malaysia-Thailand

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads X