Asia Tenggara Bakal Jadi Next China, Fajrin Rasyid: Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Pangsa Pasar

Kompas.com - 27/10/2020, 11:07 WIB
Muhamad Fajrin Rasyid KOMPAS.com/Wahyunanda Kusuma PertiwiMuhamad Fajrin Rasyid

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Digital Business PT Telkom Muhammad Fajrin Rasyid mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ( UMKM) untuk memanfaatkan momentum untuk membangun inovasi digital yang berdampak.

Saat ini Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan yang mengalami pertumbuhan ekonomi digital terbesar dan tercepat di dunia. Bahkan, transaksi ekonomi digital di kawasan ini diprediksi mencapai 100 miliar dollar AS.

Sayangnya kondisi ini masih belum bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh para pelaku UMKM ataupun inovator di Tanah Air. Padahal, Asia Tenggara cukup banyak dilihat para investor dan diprediksi akan menjadi The Next China atau The Next India.

“Ini merupakan momentum yang harus kita manfaatkan. Jangan sampai kita hanya menjadi pangsa pasar saja dalam pertumbuhan ekonomi yang sangat besar ini,” ujar dia, saat memberikan materi dalam program bootcamp terakhir untuk 30 Inovator Digital UMKM 2020, mengutip siaran persnya, Selasa (27/10/2020).

Baca juga: Panduan Cek Penerima BPUM UMKM BRI via Eform

Fajrin menjelaskan, dari angka 100 miliar dollar AS tadi, Indonesia berada di angka 40 miliar dollar AS. Angka pun menurut dia, hampir separuh dari ekonomi digital di Asia Tenggara. Pada 2025 nanti, angka ini diprediksi tumbuh menjadi USD124 miliar.

“Artinya akan ada pertumbuhan lima kali lipat dalam waktu lima tahun saja,” sebutnya.

Dia mengingatkan para peserta bootcamp agar tidak kehilangan momentum dari pertumbuhan ekonomi digital. Sebab, jumlah pengguna internet dan pemakai gawai di Indonesia sangat banyak.

Berdasarkan data yang ada, dari 100 persen transaksi digital, sebanyak 90 persen dilakukan menggunakan telepon pintar. Dan pengguna gawai terbanyak didominasi oleh kaum milenial.

“Seperempat penduduk Indonesia adalah generasi millenial. Mereka adalah orang yang paling melek internet dibandingkan dengan generasi di atasnya. Kaum milenial ini adalah digital migrant. Ini juga jadi momentum bagi para inovator untuk menjangkau mereka,” ujar co-founder Bukalapak ini.

Di satu sisi, singgung Fajrin, profil pelaku UMKM di Indonesia didominasi oleh kalangan yang berusia antara 40-50 tahun. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi generasi milenial untuk terlibat dalam bisnis di dunia digital, dan para inovator bisa menjadi menjadi konektor (penghubung) antara UMKM dengan dunia digital.

Fajrin juga berpendapat, jika generasi milenial ingin berbisnis, mereka tidak harus menjual produk sendiri, tapi bisa bermitra dengan para UMKM. Misalnya dengan membuat gerakan “Satu Pemuda Satu Desa” yang berisikan para pemuda di seluruh desa di Indonesia untuk bergerak lebih baik lagi dalam menggunakan internet untuk menjual atau mempromosikan barang dari daerah masing-masing.

“Ketimbang hanya menonton YouTube. Dengan begitu talenta muda Indonesia bisa dimanfaatkan. Dan pada saat yang sama, kita bisa mempercepat digitalisasi UMKM,” kata Fajrin.

Fajrin juga menyarankan para inovator yang mengembangkan startup-nya agar memulai usaha dari ‘why’ alias visi yang kuat.

Baca juga: Akumindo: Suka Tidak Suka, UMKM Harus Masuk ke Dunia Digital

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X