Laba OCBC NISP Turun 12 Persen pada Kuartal III 2020, Ini Sebabnya

Kompas.com - 04/11/2020, 20:37 WIB
Presdir OCBC NISP  Parwati Surjaudaja (mengenakan blazer biru tua) ketika berkunjung ke Menara Kompas, Jakarta. KOMPAS.com/ERLANGGA DJUMENAPresdir OCBC NISP Parwati Surjaudaja (mengenakan blazer biru tua) ketika berkunjung ke Menara Kompas, Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank OCBC NISP membukukan laba bersih Rp 1,95 triliun di kuartal III 2020. Laba bersih ini turun 12,16 persen dari Rp 2,22 triliun di periode yang sama tahun lalu.

Presiden Direktur Bank OCBC NISP  Parwati Surjaudaja mengatakan, penurunan laba ini dipengaruhi karena bank harus membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) akibat pandemi Covid-19.

"Tekanan terhadap indikator makro ekonomi ini turut mempengaruhi jumlah pembentukan CKPN kredit sehingga laba bersih bank mengalami kontraksi menjadi Rp 1,9 triliun," kata Parwati dalam siaran pers, Rabu (4/11/2020).

Baca juga: Imbas Melemahnya Harga Minyak, Laba Bersih Saudi Aramco Anjlok 45 Persen

Namun laba operasional sebelum pembentukan CKPN tercatat tumbuh 17 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp 3,39 triliun menjadi Rp 3,96 triliun di kuartal III 2020.

Parwati menuturkan, pertumbuhan laba didukung oleh meningkatnya pendapatan operasional sebesar 10 persen (yoy), di samping biaya operasional yang naik 1 persen (yoy) menjadi Rp 2,8 triliun.

“Kemampuan tumbuh secara berkelanjutan ini didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan fokus strategi Bank dalam meningkatkan dana murah (CASA)," ucap Parwati.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hingga September 2020, posisi dana murah bank tumbuh dobel digit, yakni 28 persen. Peningkatan dana murah didorong oleh layanan digital yang terus dikembangkan, baik melalui Internet Banking maupun aplikasi mobile banking.

Sejalan dengan pertumbuhan CASA, posisi deposito juga tumbuh sebesar 9 persen (yoy).

"Dengan demikian secara keseluruhan, DPK Bank OCBC NISP tumbuh sebesar 16 persen (yoy) menjadi Rp 153 triliun dari Rp 132 triliun," sebut Parwati.

Dari sisi penyaluran kredit, perseroan telah menggelontorkan kredit Rp 118,9 triliun hingga September 2020. Sementara rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) net sebesar 0,9 persen dan NPL bruto sebesar 1,8 persen.

Beberapa rasio keuangan juga menunjukkan sehatnya keuangan bank, terlihat dari rasio kecukupan modal (CAR) yang berada pada level 21 persen dan rasio ketersediaan dana untuk memenuhi kewajiban (Liquidity Coverage Ratio) yang mencapai 186 persen.

"Selain inisiatif peningkatan CASA dan akselerasi digitalisasi, bank akan meneruskan upaya optimalisasi beban operasional sehingga produktivitas dan efisiensi dapat terus ditingkatkan," pungkas Parwati.

Baca juga: Di Tengah Pandemi, Laba Amazon Melonjak 197 Persen



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.