Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Kompas.com - 25/11/2020, 19:54 WIB
Ilustrasi kerja sama, keanekaragaman. DOK.KOMPAS/RAHARDI HANDININGIlustrasi kerja sama, keanekaragaman.

Pengambilan keputusan bukan berdasar voting per orang, melainkan proporsional berdasar kelompok. Misalnya, Kelompok Pemproses memiliki suara 40 persen, Kelompok Produsen 40 persen, dan 20 persen sisanya pada Kelompok Outlet.

Prinsipnya tidak ada yang memiliki suara dominan. Dengan cara begitu, ko-operasi atau kerja sama secara alamiah dimungkinkan. Bila satu kelompok memiliki aspirasi tertentu, mereka harus memperoleh dukungan kelompok yang lain.

Di sanalah hakikat demokrasi lahir, proses check and balance dari berbagai pihak yang berkepentingan.

Hilang potensi

Sekali lagi, praktik seperti itu di Indonesia belum bisa diterima sebab belum ada regulasi yang mengatur. UU No. 25 Tahun 1992 yang disempurnakan melalui UU Omnibus Law No. 11 Tahun 2020 juga belum mengatur itu.

Padahal di luar negeri, model dan praktik seperti itu sudah membudaya sejak tahun 1970an. Bisa dikatakan kita telat 30-40 tahunan di banding negara lain.

Itu mirip seperti adagium dalam hukum, "Het recht hink achter de feiten aan", yang artinya hukum selalu tertatih-tatih tertinggal di belakang realitas.

Realitas memungkinkan dan menghendaki sebuah model collaborative economy, namun regulasi serta kelembagaan yang ada belum mampu mengakomodasinya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Adagium itu sesungguhnya bukan untuk mengamini, tetapi untuk mengingatkan bahwa kita harus menyempurnakan apa-apa yang tertinggal tadi.

Dengan tiadanya norma yang mengatur itu, kita kehilangan potensi. Berbagai modalitas para pihak yang bila dikonsolidasi membuat lebih efisien serta berlipat ganda, menjadi tak bisa diaktivasi.

Keterbatasan itu sesungguhnya berdampak langsung pada capaian ekonomi masyarakat. Contohnya, petani produsen menjadi tak memperoleh nilai lebih dari suatu rantai pemrosesan tertentu. Mereka hanya menerima harga pembelian stok saja.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X