Ini Masalah yang Kerap Terjadi Saat Fintech Melakukan Pencocokan Data

Kompas.com - 01/12/2020, 18:00 WIB
Ilustrasi fintech. ShutterstockIlustrasi fintech.

JAKARTA, KOMPAS.com - Teknologi finansial atau financial technology (fintech) memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari di era digital. Pengguna fintech pun kian meningkat, terlebih di masa pandemi, saat sebagian besar masyarakat beralih ke transaksi online.

Seiring dengan perkembangan tersebut, prinsip know your customer (KYC) atau mengenal nasabah menjadi hal yang penting bagi perusahaan fintech. Hal ini untuk memastikan keamanan transaksi yang dilakukan nasabah.

Di sisi lain, KYC juga berguna bagi nasabah untuk bisa menikmati beragam layanan khusus yang diberikan fintech. Termasuk pula berguna dalam hal penyaluran bantuan sosial (bansos) tunai di masa pandemi, seperti program Kartu Prakerja yang insentifnya memang disalurkan pemerintah melalui perbankan maupun fintech.

Vice President Communication DANA Steve Saerang yang mewakili Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) menjelaskan, pada dasarnya dalam menerapkan prinsip KYC, perusahaan fintech akan membuat program tersendiri untuk mendapatkan data nasabahnya.

Baca juga: Penerapan e-KYC Dinilai Bisa Bikin Industri Fintech Hemat

Kemudian data yang didapatkan tersebut akan dicocokkan dengan data yang ada di Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Dukcapil Kemendagri).

Namun pada tahap pencocokan data seringkali terjadi masalah. Data yang berasal dari calon nasabah kerap tidak ditemukan atau tidak cocok dengan data di Ditjen Dukcapil. Salah satu penyebabnya karena foto yang diberikan nasabah buram.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Padahal bila data tak sesuai, maka pendaftaran yang dilakukan calon nasabah akan gagal. Steve mengakui, hal tersebut sering kali dikeluhkan perusahaan fintech yang tergabung dalam Aftech.

"Hal ini memang jadi keluhan dari anggota Aftech, bahwa saat kami ingin memverifikasi data yang kami punya dengan data yang ada di Dukcapil sering terjadi teknikal eror," ungkapnya dalam webinar e-KYC: Solusi Digital untuk Akselerasi Keuangan Inklusif, Selasa (1/12/2020).

Oleh sebab itu, Steve menekankan, persoalan ini harus segera diatasi untuk mendorong perkembangan industri fintech Tanah Air. Menurutnya, persoalan ini menjadi masukan bagi industri fintech untuk menanganinya bersama.

Baca juga: Sri Mulyani Soroti Persaingan di Dunia Fintech: Banyak yang Tumbuh Besar Kemudian Diakuisisi

Kendati demikian, Steve mengatakan, perusahaan fintech akan terus mendorong para pengguna layanannya untuk melakukan pendaftaran data diri guna mendukung prinsip KYC.

Umumnya perusahaan fintech akan menjadikan status nasabah premium bagi pengguna yang sudah memenuhi KYC, sehingga nasabah dapat menikmati fasilitas yang lebih, seperti tarik tunai melalui perbankan dan melakukan transfer saldo ke sesama pengguna.

"Perusahaan fintech terus melakukan kampanye bagi pengguna tapi enggak KYC, kami berikan program yakni yang terdaftar menjadi premium dengan beragam fasilitas berbeda yang diberikan," pungkas Steve.

Baca juga: Tanpa Kerja Sama dengan Bank, Fintech Dinilai Sulit Tumbuh Besar



25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X