Pemilihan CEO hingga Penambahan Modal, Ini Saran untuk Bank Syariah Indonesia

Kompas.com - 28/12/2020, 13:30 WIB
Ilustrasi bank ShutterstockIlustrasi bank
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Ekonomi Syariah dari INDEF Fauziah Rizki Yuniarti menilai, setidaknya ada beberapa hal yang harus dilakukan bank syariah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tengah melangsungkan proses merger.

Sepuluh hal tersebut mulai dari pemilihan pemimpin (CEO), pengembangan produk, hingga penambahan modal.

"Kesepuluh saran ini diberikan agar entitas hasil merger tiga bank syariah milik Himbara ini bisa segera bergerak secara tepat demi mewujudkan visi, misi, dan membawa kemaslahatan bagi umat," kata Fauziah Rizki Yuniarti dalam siaran pers, Senin (28/12/2020).

Fauziah menuturkan, pemilihan CEO yang tepat dibutuhkan untuk mengawal proses pasca-merger yang krusial. Bank syariah hasil merger yang diberi nama Bank Syariah Indonesia ini juga harus berinvestasi secara masif di bidang teknologi informasi untuk transformasi perusahaan.

Baca juga: Menpan RB Minta Kementerian Tiru Kearsipan Bank Indonesia

Investasi di bidang IT memungkinkan bank masuk ke layanan perbankan digital (digital banking), sama seperti bank-bank besar pada umumnya.

Selanjutnya, bank fokus mengembangkan produk syariah termasuk manajemen risiko atas produk berakad mudharabah/musharakah sehingga porsi pembiayaan lebih merata dan tidak didominasi pembiayaan murabahah.

"Bank Syariah Indonesia diminta fokus pada tujuan awal pendirian untuk meningkatkan daya saing dan market share keuangan syariah," ucap Fauziah.

Fauziyah menyebut, pengembangan produk-produk tersebut hendaknya menyasar segmen UMKM yang lebih tepat. Bank syariah hendaknya tidak hanya mengacu persyaratan minimal dari Bank Indonesia, yakni alokasi pembiayaan sebesar 20 persen untuk UMKM

Bank syariah harus mampu meningkatkan porsi pembiayaan di segmen tersebut. Untuk pemasaran, bank harus bisa menyusun materi pemasaran yang baru. Tidak hanya fokus menjual agama, tapi lebih menonjolkan nilai-nilai universal sehingga bisa diterima oleh masyakarat yang lebih luas.

"Seperti nilai ESG (environment/lingkungan, social, and governance/tata kelola), nilai keadilan, nilai etika, nilai moral, dan nilai berkelanjutan (sustainability)," tuturnya.

Selanjutnya, Bank Syariah Indonesia diminta bisa mengembangkan bisnis model baru yang mampu memaksimalkan pemanfaatan dana sosial Islam (ZISWAF) yang memiliki potensi besar.

Lalu, penambahan modal harus segera dilakukan agar Bank Syariah Indonesia bisa lekas menjadi bagian Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) IV dan memperluas kesempatan mendapat dana murah.

"Terakhir, bank syariah perlu menyusun strategi yang tepat dalam penyaluran pembiayaan ke sektor riil, khususnya selama dan pasca pandemi. Pengaturan portfolio pembiayaan yang tepat penting agar tingkat NPF bisa terjaga di batas aman regulator (5 persen) dan profitabilitas meningkat," pungkasnya.

Baca juga: Kementan Perkirakan Harga Beras Stabil hingga Maret 2021



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X