Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

JPMorgan Proyeksi Harga Bitcoin Bisa Tembus Rp 2 Miliar

Kompas.com - 06/01/2021, 09:04 WIB
Mutia Fauzia,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

Sumber CNBC

NEW YORK, KOMPAS.com - Kinerja mata uang kripto bitcoin diproyeksi masih bisa menguat hingga beberapa waktu ke depan. Baru-baru ini, harga bitcoin baru saja mencetak rekor baru di kisaran 30.000 dollar AS atau sekitar Rp 417 juta.

Salah satu bank investasi terbesar di Amerika Serikat, JPMorgan bahkan memproyeksi harga bitcoin bisa mencapai 146.000 dollar AS atau sekitar Rp 2,02 miliar. Harga mata uang kripto tersebut bersaing dengan emas yang selama pandemi menjadi alternatif investasi yang diminati investor.

Dilansir dari CNBC, Rabu (6/1/2021), kapitalisasi pasar bitcoin saat ini berada di kisaran 575 miliar dollar AS. Nilai tersebut dihitung dari mengalikan harga dari total jumlah koin yang saat ini beredar.

Baca juga: MCAS Sebut Tak Ada Kerja Sama Endorsement dengan Raffi Ahmad dan Ari Lasso untuk Nabung Saham

Menurut JPMorgan, kapitalisasi pasar tersebut bakal meningkat 4,6 kali lipat untuk bisa mengimbangi investasi di emas di sektor swasta yang sekitar 2,7 triliun dollar AS.

Agar bitcoin bisa mencapai level tersebut, mata uang kripto itu harus bisa menjaga tingkat volatilitas harga agar bsia menarik kepercayaan investor institusional yang bakal melakukan invesasi dengan nilai besar.

Pasalnya selama ini bitcoin dikenal dengan volatilitas yang sangat tinggi. Pada perdagangan Senin (4/1/2021) harga bitcoin merosot di bawah level 30.000 dollar AS setelah mencapai titik puncak tersebut pada beberapa waktu lalu.

Namun demikian, harga bitcoin kembali naik 1 persen dalam waktu 24 jam, diperdagangkan di kisaran 31.720 dollar AS.

"Keuntungan jangka panjang ini berdasarkan penyamaan kapitalisasi pasar bitcoin dengan emas untuk tujuan investasi dan bergantung pada volatilitas bitcoin dibandingkan dengan emas dalam jangka panjang," tulis JPMorgan.

Baca juga: Siap-siap, Tahun 2021 Harga Bitcoin Makin Bersinar


"Alasannya adalah, bagi sebagian besar investor institusional, tingkat volatilitas penting untuk melakukan manajemen risiko portofolio dan semakin tinggi tingkat volatilitas, semakin tinggi risiko modal yang dikonsumsi oleh jenis aset tersebut," jelas JPMorgan.

Sementara Crypto Bulls mengatakan, reli bitcoin baru-baru ini sangat berbeda dari gelembung atau bubble yang sempat terjadi pada tahun 2017 yang membuatnya mendekati 20.000 dollar AS per koin, dan meletus menjadi hanya 3.122 dollar AS di tahun berikutnya.

Hal itu disebabkan oleh kepercayaan investor yang mulai membeli aset tersebut dan dipandang sebagai salah satu pendorong kepercayaan yang penting bagi aset digital.

Namun demikian, pihak yang skeptis akan melihat reli bitcoin sepanjang tahun 2020 seperti kejadian tahun 2017 lalu. Pihak yang skeptis memandang bitcoin sebagai aset spekulatif tanpa nilai intrinsik dan memiliki kemungkinan menjadi gelembung yang meletus pada satu titik tertentu.

Baca juga: Terus Cuan, Amankah Parkir Dana di Bitcoin Sekarang?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com