Defisit APBN Capai 6,09 Persen PDB, Kepala BKF: Cukup Menggembirakan Saat Ekonomi Lesu

Kompas.com - 12/01/2021, 11:17 WIB
Kepala Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu. KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMAKepala Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Tekanan pandemi Covid-19 menyebabkan semua negara di dunia mengeluarkan respon kebijakan fiskal yang luar biasa.

Alhasil, realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 mencapai 6,09 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Dikutip dari Kontan, defisit tersebut disebabkan pendapatan negara mengalami tekanan yang cukup dalam, di mana pendapatan negara terkumpul sebesar Rp 1.633,6 triliun, turun 16,7 persen dibanding 2019.

Baca juga: Defisit Capai Rp 956,3 Triliun, Sri Mulyani: Situasi Masih Lebih Baik dari Negara Lain

Jika dilihat dari targetnya, capaian ini setara dengan 96,1 persen dari target Perpres 72/2020.

“Realisasi ini cukup menggembirakan di tengah aktivitas perekonomian yang terganggu secara luar biasa, berupa hambatan permintaan dan penawaran, volatilitas harga komoditas, dan kurang optimalnya kinerja ekspor-impor,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Nathan Kacaribu, Selasa (12/1/2021).

Di tengah pendapatan negara yang tertekan, realisasi belanja negara sepanjang 2020 sebesar Rp 2.589,9 triliun, naik 12,2 persen yoy.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jika dibandingkan dengan targetnya, penyerapan belanja bernilai 94,6 persen dari Perpres 72/2020.

Febrio mengatakan, pertumbuhan realisasi belanja negara tersebut sejalan dengan strategi countercyclical yang ditempuh pemerintah dalam penanganan Covid-19.

Baca juga: Defisit APBN 2020 Tembus Rp 956,3 Triliun

Hal ini terutama untuk menahan laju kontraksi ekonomi serta mengurangi dampaknya pada kenaikan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran akibat pandemi.

“Penyerapan belanja dilakukan dengan mengikuti tata kelola yang baik untuk memastikan seluruh kegiatan dan program tetap akuntabel meskipun harus dilakukan secara cepat,” ucap Febrio.

Febrio mengklaim posisi defisit APBN pada tahun lalu masih relatif lebih kecil dibanding banyak negara ASEAN maupun G20.

Defisit Malaysia tercatat minus 6,5 persen, Filipina minus 8,1 persen, India minus 13,1 persen, Jerman minus 8,2 persen, Perancis minus 10,8 persen, dan Amerika Serikat minus 18,7 persen dari PDB.

“Meskipun relatif kecil dibandingkan negara-negara lain, APBN Indonesia telah bekerja secara optimal sebagai instrumen kebijakan countercyclical di masa pandemi.” ungkap Febrio.

Baca juga: Bos Pertamina Beberkan Alasan Sektor Migas Defisit Meski Kelebihan Pasokan

Febrio mengatakan, strategi belanja dengan realokasi dan refocusing serta akselerasi yang dilakukan pemerintah, diarahkan untuk mengatasi tiga fokus utama mengatasi gangguan kesehatan, melindungi konsumsi dasar masyarakat miskin dan rentan serta mendukung kegiatan usaha terutama UMKM.

“Tingginya realisasi belanja bantuan sosial di tahun 2020 adalah bukti bahwa APBN ditujukan untuk melindungi konsumsi masyarakat miskin dan rentan di masa pandemi,” kata dia.



Sumber KONTAN
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.