Penyebab Ekonomi RI Minus di 2020: Sektor Transportasi dan Pergudangan

Kompas.com - 05/02/2021, 12:31 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERAKepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada tahun 2020, realisasi pertumbuhan ekonomi minus 2,07 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pada tahun tersebut, sebanyak 10 dari 17 sektor perekonomian menyumbangkan kinerja negatif akibat dampak dari pandemi virus corona.

Namun demikian, ia mengatakan, dampak pandemi yang terdalam sepanjang tahun 2020 yakni di sektor transportasi dan pergudangan yang mengalami kontraksi hingga 15,04 persen.

Baca juga: BPS: Pertumbuhan Ekonomi RI 2020 Minus 2,07 Persen

Kemudian diikuti oleh sektor akomodasi dan makanan minuman (mamin) yang tercatat mengalami minus 10,22 persen.

"Beberapa fenomena yang menyebabkan akomodasi dan mamin alami kontraksi cukup dalam di antarnaya tingkat hunian kamar turun, jumlah wisatawan mancanegara kontraksi 75 persen dan tutupnya sejumlah hotel dan restoran selama pandemi Covid-19," jelas Suhariyanto ketika memberikan keterangan pers secara virtual, Jumat (5/2/2021).

Setelah kedua sektor tersebut, kinerja negatif diikuti oleh industri pengolahan yang minus 2,93 persen, perdagangan minus 3,72 persen, konstruksi minus 3,26 persen, pertambangan dan penggalian minus 1,95 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lalu, sektor jasa lainnya minus 4,1 persen, jasa perusahaan minus 5,44 persen, serta pengadaan listrik dan gas minus 2,34 persen.

Sementara itu, tujuh sektor yang tercatat tumbuh positif, yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 1,75 persen, jasa keuangan dan asuransi naik 3,25 persen, informasi dan komunikasi naik 10,58 persen, termasuk jasa pendidikan naik 2,63 persen.

Baca juga: Ekonomi Indonesia Minus 2,07 Persen, Rekor Terendah Sejak 1998

Lalu, sektor real estate naik 2,32 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial naik 11,6 persen, serta pengadaan air naik 4,94 persen.

"Jasa Kesehatan dan kegiatan sosial naik tinggi 11,6 persen karena pencairan pembayaran insentif Covid-19 untuk tenaga kesehatan, peningkatan pendapatan rumah sakit untuk pelayanan Covid-19," jelas Suhariyanto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.