Indonesia-China "Lengket", Luhut: Tidak Ada Mereka yang Atur

Kompas.com - 25/02/2021, 17:11 WIB
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan salam covid dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Parapat, Sumatera, Selasa (12/1/2021). Dokumentasi Humas Kemenko MarvesMenteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan salam covid dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Parapat, Sumatera, Selasa (12/1/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan tak menepis kedekatan Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah China.

"Kalau kita (pemerintah disebut) dekat dengan China, iya,"  ujarnya dalam CNBC Economic Outlook yang ditayangkan secara virtual, Kamis (25/2/2021).

Seperti diketahui, Indonesia menjalin kerja sama dengan China untuk pengadaan jutaan vaksin Covid-19. Bahkan, China juga mengirim bahan baku vaksin ke Indonesia yang kemudian diproduksi oleh Bio Farma.

Selain itu, pemerintah juga menggaet China untuk investasi di berbagai sektor. Teranyar, Indonesia dan China menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama pengembangan sektor pariwisata, salah satunya di Danau Toba, Sumatera Utara.

Baca juga: Muncul Julukan Luhut Lagi, Luhut Lagi, Ini Respons Luhut

Meski begitu Luhut menekankan, seperti negara lain, saat China ingin berinvestasi di Indonesia, ada syarat yang harus dipatuhi.

"Nah kenapa dengan China? Mungkin China ini ingin cari teman juga. Dia (China) lihat kita (Indonesia) enak, kita lihat (China) enak juga. Tapi, ada tapinya, semua mau dia investasi di sini harus memenuhi kriteria," ucapnya.

"Tidak ada mereka yang atur. Semua teknologi yang masuk ke sini harus first technology, dan harus B to B (business to business), enggak mau G to B (government to business)," sambung Luhut.

Namun, Luhut juga mengatakan Pemerintah Indonesia dekat dengan sejumlah negara lain. Misalnya dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Amerika Serikat (AS).

Selain dengan China, Luhut juga mengatakan Pemerintah Indonesia dekat dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Amerika Serikat (AS).

"Kalau kita (disebut) dekat dengan Abu Dhabi (UEA), super iya juga. Karena hubungan pribadi Pak Jokowi dengan crown prince (Putra Mahkota Raja UEA) itu bagus. Kita juga dekat dengan Amerika, cukup bagus, bagus sekali," ucap Luhut.

Bahkan kata Luhut, kedekatan Presiden Jokowi dengan Putra Mahkota Raja Abu Dhabi menghasilkan suatu komitmen kesepakatan investasi yang nilainya mencapai 19 miliar dollar AS atau setara Rp 266 triliun.

Baca juga: Tesla Pilih Bangun Pabrik di India, Luhut: Future-nya Ada di Sini



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X