Wapres soal Wakaf Uang: Yang Penting Bukan Fisiknya, tapi Manfaatnya

Kompas.com - 24/03/2021, 10:34 WIB
Wakil Presiden Ma'ruf Amin saat berbicara di acara Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), Kamis (28/1/2021). Dok. SetwapresWakil Presiden Ma'ruf Amin saat berbicara di acara Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), Kamis (28/1/2021).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden Ma'ruf Amin ingin masyarakat memahami lebih jauh soal wakaf uang yang masih dianggap tabu oleh sebagian besar orang.

Sebagai informasi, masyarakat masih memahami wakaf sebagai pemberian benda tidak bergerak berupa tanah hingga bangunan. Padahal wakaf benda bergerak termasuk uang dan surat berharga sudah difatwakan MUI dan diatur Undang-Undang.

Memang kata Ma'ruf, mengubah persepsi masyarakat mengenai wakaf uang merupakan pekerjaan besar. Ia menilai masalah wakaf uang termasuk masalah baru karena masalah ini belum ada sebelumnya (masaa'il jadidah dan masaa'il mustajaddah).

"Uang itu bisa dijaga keutuhannya karena uang sekarang dalam bentuk benda dan bisa dikembangkan. Sama halnya seperti wakaf yang berubah karena daerah wakaf diubah menjadi pelabuhan, dan lain-lain. Bendanya hilang, tapi diganti. Jadi yang penting bukan fisiknya, tapi manfaatnya," kata Ma'ruf dalam Indonesia Data and Economic Conference Katadata, Rabu (24/3/2021).

Ma'ruf menyebut, nilai wakaf uang terhimpun yang diinvestasikan di berbagai portofolio yang aman namun menguntungkan. Manajer Investasinya pun dipilih yang memahami betul tentang wakaf. Nilai wakaf uang tidak boleh hilang, berkurang, justru harus menguntungkan

Pemerintah dalam hal ini hanya memfasilitasi di bawah koordinasi Badan Wakaf Indonesia (BWI). Adapun peruntukkannya akan disesuaikan dengan pemberi wakaf, dengan nadzir yang telah ditetapkan berhak menerima wakaf tersebut.

Baca juga: Luhut Puas Hasil Panen Perdana Food Estate Humbahas

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Hasilnya digunakan nadzir sesuai niat pemberi wakaf. Untuk apa? Bisa untuk pendidikan, pengembangan ekonomi masyarakat, beasiswa, dan banyak bentuknya," ucap Ma'ruf.

Ma'ruf mengungkap, pemerintah harus turun tangan memfasilitasi wakaf karena masyarakat masih belum menyadari potensi wakaf dari negara berpendudukan muslim terbesar di dunia ini.

Dia lalu mengibaratkannya seperti keledai yang membawa beban makanan di punggungnya. Namun ketika kedelai lapar, makanan di punggungnya tak bisa dimakan.

"Dia punya potensi tapi tidak menyadari potensi ini," tutur Ma'ruf.

Lebih lanjut kata Ma'ruf, Bank Syariah Indonesia yang baru saja bergabung dari 3 bank syariah BUMN besar bisa berpartisipasi dalam wakaf uang.

Bank syariah terbesar di Indonesia ini memang berencana bersaing dengan berbagai bank syariah besar di ranah global, seperti Islamic Bank of Britania, Inggris, hingga Dubai Islamic Bank.

"Kita berlomba menjadi bank berskala besar ke depannya kalau ingin menjadi pusat keuangan syariah di dunia," pungkasnya.

Baca juga: Muncul Wacana Tax Amnesty Jilid II, Ini Kata Sri Mulyani



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.