[TREN SOSBUD KOMPASIANA] Karier Istri Lebih Baik dari Suami | Indahnya Musim Semi di Jepang | Bayang-bayang Risiko Kawin Muda

Kompas.com - 28/04/2021, 11:43 WIB
/Ilustrasi Shutterstock/Ilustrasi

KOMPASIANA---Kini kesempatan berkarier untuk kaum perempuan memang sudah terbuka. Mereka bisa memilih dan berkesempatan mendapat pekerjaan yang diinginkan.

Namun, tidak sedikit justru ketika sudah menikah karier istri lebih baik daripada suami. Hal tersebut tentu berdampak langusng pada penghasilan yang didapat.

Jika tidak bisa menjalin komunikasi yang baik, bisa saja ada "kecemburuan" terjadi pada rumah tan gga tersebut.

Tetapi, masih adakah suami yang merasa berat menerima kondisi karier istri yang lebih sukses itu?

1. Sikap yang Perlu Dibangun Jika Karier Istri Lebih Tinggi daripada Suami

Bila merujuk pada budaya patriarkat, tentu ketika perempuan memiliki karier yang jauh lebih baik dari suami, pasti tampak peran suami jadi tidak terlalu dominan pada rumah tangga.

Jika itu terjadi, menurut Kompasianer Gobin Dd, sikap sinis bisa tampak kepada laki-laki yang dinilai gagal berperan sebagai suami untuk istri dan pencari nafkah untuk keluarga.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Padahal, semestinya, peran aktif dan dominan seorang istri bukanlah persoalan yang perlu dikhawatirkan.

"Prinsipnya, berkarier merupakan ekspresi diri. Kaum perempuan yang berposisi sebagai istri dan ibu juga perlu mengekspresikan diri, termasuk lewat karier di dunia kerja," tulis Kompasianer Gobin Dd. (Baca selengkapnya)

2. Samurai in Spring

Orang Jepang sangat suka musim semi. Sebagaimana yang dituliskan oleh Kompasianer Lupin, setidaknya ada 3 alasan untuk menjelaskan itu seperti ternyata orang Jepang tidak suka udara dingin saat musim gugur dan musim dingin.

Orang Jepang juga tidak suka udara panas, sehingga kebanyakan orang Jepang suka musim semi, karena udaranya sejuk.

"Kedua, musim semi adalah awal dari kehidupan baru. Tahun ajaran baru dimulai saat musim semi," tulis Kompasianer Lupin.

Ketika musim semi, lanjutnya, toko-toko gencar melakukan promosi, sehingga orang Jepang umumnya menunggu momen sale musim semi tersebut. (Baca selengkapnya

3. Masih dalam Bayang-bayang Risiko Kawin Muda

Zaman berubah, tetapi menurut Kompasianer Khoirul Amin masih ada kultur yang tetap mengakar kuat dan menjadi fenomena sosial terkait primordialisme terhadap kaum perempuan.

Persepsi bahkan kultur yang menempatkan perempuan cukup di rumah dan menjadi pendamping hidup pasangannya, masih ada di masyarakat kita.

"Dalam kehidupan masyarakat, perkawinan menjadi status sosial baru yang berbeda, meskipun usia pasangan masih sangat muda," tulis Kompasianer Khoirul Amin.

Siap tidak siap, lanjutnya, berkeluarga tentu membutuhkan kemandirian, kedewasaan, kematangan berpikir, toleransi, pengertian, serta empati. (Baca selengkapnya)

***

Silakan ikuti konten-konten menarik lainnya lewat subkategori Humaniora di Kompasiana: Sosbud.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X