Wawancara Imajiner Erick Thohir dengan Peter Drucker

Kompas.com - 15/06/2021, 07:00 WIB
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (17/7/2020). ANTARA FOTO/Dhemas ReviyantoMenteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (17/7/2020).

PENERBANGAN panjang nan melelahkan dari Jakarta menuju California Amerika menjadi tak relevan ketika Erick Thohir tiba di rumah pencipta manajemen modern, Peter Drucker.

Udara hangat khas California dan sambutan penuh persahabatan dari Drucker membuat suasana pertemuan penuh warna.

Dari ruang tamu rumah Drucker terlihat kolam renang yang lama tidak dipakai karena peghuninya pasangan suami-istri yang sudah berumur lebih sembilan puluh tahun.

Di usia yang sangat lanjut, pemikiran Drucker tetap bernas. Duduk berhadapan, Peter Drucker dan Erick Thohir.

“Kursi yang Anda duduki itu pernah diduduki Jack Welch ketika pertama kali ia diangkat menjadi CEO General Electric, tahun 1981,” kata Drucker mengawali pembicaraan. Sejarah kemudian mencatat, Jack Welch ditabalkan sebagai CEO abad 20 oleh majalah Fortune.

“Saya sudah membaca semua tentang diri Anda. Pengusaha kaliber internasional. Menjadi wajar apabila Anda diberi amanat mengelola salah satu konglomerasi besar di kolong langit, BUMN Indonesia. Saya sendiri malah belum pernah mengelola perusahaan. Saya adalah manager yang buruk,” selera humor Drucker ternyata tinggi.

“Terimakasih atas apresiasinya, Pak Drucker. Pada awal mula memimpin BUMN memang semua sesuai jalur. BUMN bertumbuh dan memberi kontribusi signifikan pada negara dan masyarakat. Namun pandemi yang menerjang Indonesia mulai Maret 2020 memporak-porandakan seluruh pranata. Bagaimana cara terbaik mengelola BUMN dalam kondisi seperti saat ini ketika pandemi sendiri tiada tahu kapan berakhir?” Erick Thohir mulai mewawancarai sekaligus meminta konsultasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Selama saya berkecimpung di dunia manajemen sejak tahun 40-an, memang kejadian pandemi ini belum pernah saya alami. Namun saya akan kembali pada akar manajemen yang tidak lekang diterjang zaman. Pendapat saya ini tidak sekedar untuk Anda, tetapi juga buat pemimpin korporasi di mana pun,” Drucker meraih cangkir teh hangat dan meneguk dua kali.

“Manajemen itu tentang manusia. Sedangkan ujian terakhir manajemen adalah kinerja. Alhasil manajemen adalah cara mengelola manusia untuk mencapai kinerja optimal. Dalam disrupsi saat ini, manajer diwajibkan melihat tugasnya dan bertanya: Apa yang harus saya lakukan agar siap menghadapi disrupsi dan meraih peluang dari segala sesuatu yang berhubungan dengan pandemi?”

Komposisi Komisaris dan Direksi

“Ada empat hal yang harus dilakukan, Mas Erick. Pertama, inilah waktunya untuk memastikan bahwa organisasi Anda ramping dan dapat bergerak dengan cepat. Saya lihat di BUMN mayoritas memiliki jumlah komisaris dan direksi yang gemuk. Mulai dulu perampingan organisasi dari komisaris dan direksi.”

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X