Firdaus Putra, HC
Komite Eksekutif ICCI

Ketua Komite Eksekutif Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI), Sekretaris Umum Asosiasi Neo Koperasi Indonesia (ANKI) dan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED)

125 Tahun Koperasi, Perlu Melampaui Kebajikan

Kompas.com - 12/07/2021, 09:39 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Padahal seperti diketahui, Pengurus sebagai wakil anggota adalah orang yang bertanggung jawab mengendalikan koperasi. Termasuk mewakili koperasi di depan pengadilan. Banyak tanggung jawab serta beban dan resiko yang dipikulnya.

Sebaliknya, hemat saya, kita perlu mengembalikan khittah koperasi sebagaimana adanya, suatu praktik yang manusiawi, yang tak membutuhkan manusia yang super baik dan idealis. Namun orang-orang biasa yang karena ketika sendirian merasa tidak mampu, lantas bersama-sama dengan teman-koleganya, bergabung bersama mendirikan perusahaan.

Itu seperti pepatah Afrika bilang, “If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together”. Dalam perjalanan jauh itu, berbagai dinamika bakal mereka hadapi. Karenanya mereka membutuhkan fitur yang namanya solidaritas dan juga statuta (AD/ ART). Solidaritas ini adalah lem perekat yang sifatnya soft, sedangkan statuta sifatnya hard.

Saya akan kutipkan panjang tulisan Boeke sebagaimana dikutip Henley (2007), “Istilah “bergabung bersama” (aaneensluiting), sudah menunjukkan indikasi situasi adanya otonomi. Bergabung bersama adalah sesuatu yang dilakukan oleh mereka yang mempelajari bahwa dalam perjuangan hidupnya sebagai seorang individu mereka tidak mungkin memenuhi sendiri kebutuhannya, dan karenanya mereka bekerjasama dengan sesamanya yang berpikiran sama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan bersama”.

Otonomi atau individualitas itu adalah tema sentral yang justru kadang dilupakan. Dari sana lahir modus berikutnya: keswadayaan dan kemandirian. Hal itu yang mungkin bisa menjelaskan mengapa India memiliki koperasi besar kelas dunia di saat Human Development Index (HDI) dan Pendapatan Perkapitanya lebih rendah dari Indonesia.

Kita bisa lacak jauh ke belakang yakni ke masa Mahatma Gandhi (1869-1948) dengan gerakan swadesi, yang nampaknya telah menjadi core value bagi masyarakatnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Mari kita refleksikan bersama! Dirgahayu Koperasi Indonesia, 12 Juli 2021.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.