Kemenhub Proses Izin Operasi Taksi Terbang Pertama di Indonesia

Kompas.com - 01/12/2021, 08:44 WIB
Tim Sub Direktorat Sertifikasi Pesawat Udara DKPPU tengah melakukan melakukan assessment terhadap Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA) jenis Ehang 216. Dok. DKPPUTim Sub Direktorat Sertifikasi Pesawat Udara DKPPU tengah melakukan melakukan assessment terhadap Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA) jenis Ehang 216.


JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) buka suara terkait uji terbang Ehang 216 yang merupakan taksi terbang pertama di Indonesia.

Taksi terbang Ehang yang merupakan salah satu jenis Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA) alias drone, telah sukses melaksanakan demo flight di Pantai Tegal Besar Klungkung, Bali, pada akhir pekan lalu.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) menyampaikan penjelasan terkait keberadaan mobil terbang Ehang 216.

Baca juga: Cek Tarif Taksi Bandara Soekarno-Hatta 2021

Kepala Sub Direktorat Sertifikasi Pesawat Udara DKPPU Kemenhub Agustinus Budi Hartono mengungkap informasi terkait demo flight taksi terbang di Bali milik PT Prestisius Aviasi Indonesia dengan jenis Ehang 216 belum lama ini.

Ia menjelaskan bahwa demo flight tersebut dilaksanakan setelah Kemenhub melakukan assessment selama 8 bulan terhadap pesawat udara Ehang 216, personel yang mengoperasikan, dan lokasi yang digunakan.

Hasil assessment tersebut menjadi rekomendasi kepada operator untuk pelaksanan demo flight tersebut. Alhasil, taksi terbang Ehang 216 bisa melakukan uji terbang di Bali.

Agustinus juga menegaskan, walaupun telah melaksanakan demo flight, Ehang 216 tidak secara otomatis diizinkan untuk melakukan penerbangan secara komersial.

Hal ini berkaitan dengan masih adanya beberapa ketentuan yang harus dipenuhi, sesuai regulasi yang ada, sebelum mobil terbang Ehang 216 tersebut dapat dioperasikan secara komersial.

Baca juga: Ongkos Taksi dan Bus dari Bandara Kualanamu Medan Terbaru

"Yang kami sertifikasi tidak hanya dari sisi pesawatnya saja. Kita juga harus mempertimbangkan dan melakukan validasi dari sisi ruang udara, keamanan, lisensi pilot, termasuk organisasi yang nanti akan melakukan mengoperasikannya,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip pada Rabu (1/12/2021).

“Selain itu, masih ada hal teknis lainnya yang harus dipenuhi oleh Pabrikan Pesawat Ehang 216 dan kami juga sangat memperhatikan masalah safety dan kelaikudaran dari PUTA," sambung Agustinus.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.