Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Deretan 10 Negara Termiskin di Dunia

Kompas.com - 02/12/2021, 20:53 WIB
Isna Rifka Sri Rahayu,
Muhammad Idris

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tolak ukur negara miskin adalah biasanya dari tingkat produk domestik bruto (GDP) per kapita. Selanjutnya dinilai dari tingkat biaya hidup, inflasi, daya beli individu tiap-tiap negara di dunia. Lalu apa saja negara termiskin di dunia?

Kendati demikian, sulit untuk menentukan penyebab kenapa bisa menjadi negara termiskin di dunia dalam waktu jangka panjang. Bisa saja karena pemerintah negara miskin adalah diktator dan korup, sejarah negara tersebut, penegakkan hukum yang lemah, perang dan kerusuhan sosial, bahkan kondisi iklim yang parah bisa menjadi faktor terbentuknya negara termiskin di dunia.

Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF), Database Outlook Ekonomi Dunia April 2021 didapatkan 10 negara termiskin di dunia di mana peringkat pertama masih diduduki negara yang sama seperti tahun 2020.

Berikut 10 negara termiskin di dunia dilihat dari GDP berdasarkan keseimbangan kemampuan belanja atau purchasing power parity (PPP) per kapitanya, yakni:

1. Burundi

Negara ini memiliki tingkat GDP-PPP sebesar 760 dollar AS dan menjadi negara termiskin di dunia. Dikutip dari situs Global Finance, negara kecil Burundi yang terkurung daratan, diliputi oleh konflik etnis Hutu-Tutsi dan perang saudara.

Baca juga: Apa Itu Investasi?

Dengan sekitar 90 persen dari hampir 12 juta warganya bergantung pada pertanian subsisten dan sebagian besar dari mereka hidup dengan 1,25 dollar AS per hari atau kurang.

Perhatian utama negara miskin ini adalah kelangkaan pangan dimana tingkat kerawanan pangan hampir dua kali lebih tinggi dari rata-rata untuk negara-negara Afrika sub-Sahara. Selain itu, akses terhadap air dan sanitasi masih sangat rendah, dan kurang dari 5 persen penduduk yang memiliki listrik. Semua masalah ini, tentu saja, telah diperburuk oleh pandemi.

2. Sudan Selatan

Sudan Selatan adalah negara terbaru di dunia yang lahir pada 9 Juli 2011, enam tahun setelah perjanjian yang mengakhiri konflik dengan Sudan, perang saudara terlama di Afrika. Tingkat GDP-PPP negara miskin di dunia ini adalah sebesar 791 dollar AS.

Namun, kekerasan terus merusak negara termiskin di dunia ini yang berpenduduk sekitar 11 juta orang in. Dibentuk oleh 10 wilayah paling selatan Sudan dan rumah bagi sekitar 60 kelompok etnis asli, konflik baru pecah pada 2013 ketika presiden Salva Kiir menuduh mantan wakilnya yakni pemimpin pemberontak Riek Machar melakukan kudeta.

Baca juga: Mengenal Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO dan Tujuan Berdirinya

kekerasan dan konflik internal menjadi faktor Somalia negara termiskin di duniaAP PHOTO/FARAH ABDI WARSAMEH kekerasan dan konflik internal menjadi faktor Somalia negara termiskin di dunia

3. Somalia

Tingkat GDP-PPP per kapita negara miskin di dunia ini hanya 925 dollar AS. Tiga dekade kekerasan dan konflik internal, kekeringan, dan banjir nampaknya menjadi faktor utama Somalia menjadi negara termiskin di dunia yang berpenduduk 16 juta orang.

Proyeksi pertumbuhan GDP lebih dari 3 persen pada tahun 2020 terganggu oleh efek dari pandemi virus Covid-19, serangan belalang yang belum pernah terjadi sebelumnya di zaman modern dan banjir yang semakin intensif, yang menyebabkan ekonomi berkontraksi sebesar 1,5 persen. Hal ini mendukung Somalia menjadi negara termiskin.

4. Republik Afrika Tengah

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Laba Bersih Emiten Toto Sugiri Melonjak 40 Persen pada 2023, Jadi Rp 514,2 Miliar

Laba Bersih Emiten Toto Sugiri Melonjak 40 Persen pada 2023, Jadi Rp 514,2 Miliar

Whats New
Ekonom: Pemilu Berdampak pada Stabilitas Ekonomi dan Sektor Keuangan di RI

Ekonom: Pemilu Berdampak pada Stabilitas Ekonomi dan Sektor Keuangan di RI

Whats New
Pertumbuhan Kredit dan Pendanaan Perbankan 2024 Diproyeksi Masih Baik di Tengah Ketidakpastian Global

Pertumbuhan Kredit dan Pendanaan Perbankan 2024 Diproyeksi Masih Baik di Tengah Ketidakpastian Global

Whats New
Konsultasi ESG Makin Dibutuhkan, Sucofindo Tingkatkan Layanan LVV

Konsultasi ESG Makin Dibutuhkan, Sucofindo Tingkatkan Layanan LVV

Whats New
Imbas Konflik Iran-Israel, Harga Pangan Bisa Meroket

Imbas Konflik Iran-Israel, Harga Pangan Bisa Meroket

Whats New
Gandeng BRI, BPKH Distribusikan Uang Saku Jemaah Haji Rp 665 Miliar

Gandeng BRI, BPKH Distribusikan Uang Saku Jemaah Haji Rp 665 Miliar

Whats New
Diskon Tiket Kereta Keberangkatan 22-30 April, Ini Cara Belinya

Diskon Tiket Kereta Keberangkatan 22-30 April, Ini Cara Belinya

Whats New
Pasar Modal 2024, 'Outlook' Cerah dengan Sektor Perbankan yang Dominan

Pasar Modal 2024, "Outlook" Cerah dengan Sektor Perbankan yang Dominan

Whats New
ID Food: Peran Perempuan dalam Ekosistem Pertanian dan Pangan Penting, Akses Modal dan Pasar Jadi Tantangan

ID Food: Peran Perempuan dalam Ekosistem Pertanian dan Pangan Penting, Akses Modal dan Pasar Jadi Tantangan

Whats New
BUMN PalmCo Garap Kebun Sawit Terluas di Dunia, Ini Luasnya

BUMN PalmCo Garap Kebun Sawit Terluas di Dunia, Ini Luasnya

Whats New
Iran-Israel Memanas, BPS: Keduanya Bukan Negara Mitra Dagang Utama Indonesia..

Iran-Israel Memanas, BPS: Keduanya Bukan Negara Mitra Dagang Utama Indonesia..

Whats New
AirNav Bantah Ada Pesawat Jatuh di Perairan Bengga Nagekeo NTT

AirNav Bantah Ada Pesawat Jatuh di Perairan Bengga Nagekeo NTT

Whats New
Nilai Ekspor RI Melesat 16,4 Persen jadi 22,43 Miliar Dollar AS

Nilai Ekspor RI Melesat 16,4 Persen jadi 22,43 Miliar Dollar AS

Whats New
KKP Siapkan Sistem untuk Pantau Kuota Penangkapan Benih Bening Lobster

KKP Siapkan Sistem untuk Pantau Kuota Penangkapan Benih Bening Lobster

Whats New
Reksadana Pasar Uang adalah Apa? Ini Pengertiannya

Reksadana Pasar Uang adalah Apa? Ini Pengertiannya

Work Smart
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com