Kompas.com - 03/12/2021, 12:40 WIB
Ilustrasi varian Omicron (B.1.1.529). Dokter di Afrika Selatan yang pertama kali menyadari ada varian baru Covid-19 mengatakan, gejala varian Omicron sangat ringan seperti infeksi virus umumnya. Nama untuk varian Omicron, diambil WHO dari huruf ke-15 dalam alfabet Yunani. SHUTTERSTOCK/natatravelIlustrasi varian Omicron (B.1.1.529). Dokter di Afrika Selatan yang pertama kali menyadari ada varian baru Covid-19 mengatakan, gejala varian Omicron sangat ringan seperti infeksi virus umumnya. Nama untuk varian Omicron, diambil WHO dari huruf ke-15 dalam alfabet Yunani.

LONDON, KOMPAS.com - Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (Organization for Economic Cooperation and Development/OECD) mengatakan, varian Omicrom memicu pelambatan pemulihan ekonomi.

Varian ini bahkan mampu memicu kenaikan inflasi dan memperlambat normalisasi atau pemulihan ekonomi dunia.

"Varian Omicron menambah tingkat ketidakpastian yang sudah tinggi. Dan ini bisa menjadi ancaman bagi pemulihan, menunda kembalinya normalitas atau sesuatu yang lebih buruk," kata Kepala Ekonom OECD, Laurence Boone mengutip Nikkei Asia, Jumat (3/12/2021).

Baca juga: Hadapi Omicron, Pemerintah Percepat Vaksinasi sampai 70 Persen dari Jumlah Penduduk

Organisasi internasional yang berbasis di Paris ini memperingatkan, para pembuat kebijakan moneter untuk berhati-hati. Cara menangani varian baru yang sangat mendesak adalah dengan mengakselerasi vaksinasi Covid-19.

Rekomendasi tersebut diutarakan lembaga internasional ini bersamaan dengan prospek ekonomi yang sama dengan tiga bulan lalu, namun OECD meningkatkan ekspektasi inflasi secara signifikan.

Meski dia tidak memungkiri, tingkat inflasi di negara berkembang dengan inflasi di negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat berbeda. Artinya, kebijakan moneter tidak mungkin bisa sama di semua negara.

"Tidak ada kebijakan (moneter) satu ukuran untuk semua karena Anda memiliki situasi yang sangat berbeda di beberapa ekonomi pasar berkembang dengan tingkat inflasi yang tinggi. AS berbeda dari Eropa dan berbeda juga dari Asia di mana masalah inflasi jauh lebih sedikit," kata Boone.

Lebih lanjut Boone menekankan, otoritas moneter perlu mengkomunikasikan kebijakan dengan jelas, utamanya terkait peningkatan suku bunga.

Bank sentral perlu menekankan untuk tidak akan menaikkan suku bunga sebagai akibat dari kekurangan pasokan. Namun, bank sentral akan siap bertindak jika tekanan harga meluas.

Di sisi lain OECD mencatat, pemulihan global jauh lebih kuat dari yang diperkirakan semula pada tahun 2021. Meski tetap ada catatan, masih ada serangkaian ketidakseimbangan yang merusak dan bertahan lebih lama dari yang diharapkan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.